Malam terasa panjang. Aku bolak-balik terbangun, memandangi wajah Andi yang tidur pulas di sampingku. Cahaya bulan menerobos celah jendela, membuat pola garis-garis tipis di wajahnya. Tampan. Begitu tampan. Dan sekarang aku tahu, ketampanan itu sebenarnya milik wanita lain. Milik Helena. Aku memeluknya erat, seolah besok dia akan hilang. Ia bergerak sedikit dalam tidur, lengannya secara otomatis melingkar di pinggangku. Tubuhnya hangat. Terlalu hangat. Dan itu justru membuatku semakin takut akan kehilangan dia. --- Pagi datang dengan sinar jingga yang menyusup lewat celah-celah papan pondok kayuku. Aku bangun lebih dulu, seperti biasa. Tapi hari ini, ada rasa berat di d**a yang tak biasa. Seperti ada batu besar mengganjal. Aku mengambil handuk dan sabun. "Sayang, bangun. Udah pagi.

