Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Andi masuk, wajah dan tubuhnya masih basah, dia hanya mengenakan celana pendek. Wajahnya panik. "Sayang!" Ia berlari mendekat, berlutut di depanku. "Kamu kenapa? Kenapa pulang?" Aku tidak menjawab. Hanya melengos menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca. Ia mencoba memelukku, tapi aku menolak. Menghindar. "Sayang, dengar...." "Jangan panggil aku sayang!" bentakku. "Panggil saja Mak Iroh. Panggil saja Munaroh. Aku bukan siapa-siapa kamu!" Ia terpukul. Wajahnya berubah sedih dan muram. "Kamu marah karena tadi?" Aku tertawa pahit. "Marah? Buat apa marah? Kalian memang sepasang kekasih. Aku yang salah. Aku yang merebut kamu dari dia." "Tidak!" "Iya! Kamu lupa, tapi aku ingat! Helena itu tunanganmu. Kamu adalah Dimas yang sangat mencintainya. Kamu re

