Bab 7

839 Kata
Andi memandangiku, napasnya tersengal. Matanya menyapu dari wajahku, ke leher, d4da yang kencang dan sudah membengkak oleh r a n g s a n g a n, ke perut, lalu ke bawah. Ada kekaguman di matanya, yang kini tak terbendung. Dia menelanku, lalu mendorongku pelan hingga punggungku menyentuh rumput yang lembut namun sedikit berduri. Dia di atasku, menatapku seperti orang kelaparan melihat hidangan. "Aku... tidak tahu harus mulai dari mana," gumamnya, malu. "Biarkan aku yang akan memimpin," kataku, membalikkan posisi hingga aku yang di atas. Aku ingin kontrol. Aku ingin merasakan kekuasaan atas dirinya, atas situasi ini. Dalam hidupku yang sering kali tak berdaya menghadapi kesepian, kali ini aku ingin berkuasa. Aku meraih ikat pinggang c e l a n a nya, membukanya dengan gerakan cepat. Dia membantu dengan mengangkat pinggulnya, melepas c e l a n a itu hingga terbebas. Dan di sana, kejantanannya sudah sepenuhnya bangun, tegak dan gagah, menantang. Lebih besar dari yang kuingat, membuat mulutku kering. Aku tidak membuang waktu. Dengan satu gerakan lancar, aku menaikinya, menenggelamkan keperkasaannya hingga ke pangkal. Kami berdua mengerang bersamaan. Baginya, mungkin ini sensasi yang hampir baru, karena ingatan tentang hubungan badan mungkin ikut hilang, tetapi tubuhnya memiliki respon alami. Bagiku, ini adalah kepenuhan yang nyaris menyakitkan, namun memuaskan dahagaku yang begitu dalam. Aku mulai bergerak, perlahan di awal, lalu semakin cepat. Tanganku menempel di dadanya, kuku-kukuku mencengkeram otot-otot itu. Kepalaku mendongak, mata tertutup, menyerahkan diri pada ritme primal yang kami ciptakan. Rumput-rumput di bawah kami berdesis, tertindih oleh berat tubuh kami yang bergerak. Matahari menyinari kulit kami yang berkilauan keringat. Suara kami racauan , desahan, dan teriakanku yang tertahan—bercampur dengan kicau burung dan desir angin di daun. Ini birahi yang purba, terjadi di tengah alam, tanpa penonton. Atau begitulah yang kami kira. " Andii.. Andi,... Hmm!" Aku menggeram. "Mak irrohh,,, humzz... Kamu... Sangat ... Indah..." Andi mulai aktif, pinggulnya mendorong ke atas, menyelaraskan dengan gerakanku. Tangannya meraih pinggangku, membantu mengatur irama. Rasanya luar biasa. Setiap dorongan sepertinya menyentuh bagian terdalam diriku yang sudah lama mati rasa. Aku memandang wajahnya yang berkerut dalam k e n i k m a t a n. Di matanya yang biasanya kosong, sekarang ada api hasrat yang murni. Dalam keadaan ini, dia tampak begitu hidup, begitu nyata. Dan untuk sesaat, aku lupa bahwa dia adalah lelaki amnesia. Dia hanyalah Andi, lelaki yang memenuhi diriku. "Mak Iroh... aku... aku merasa aneh," desaknya, tangannya meraba-raba SV SV gandulku, mencubit ujungnya yang sudah keras. "Itu bagus, sayang. Lepaskan saja. Di dalam" balasku, mempercepat gerakan. Sensasi menuju puncak gemilang cahaya sudah mulai mengumpul di perutku, seperti gelombang panas yang naik perlahan. Kami berguling-guling di atas rumput, tak peduli tanah atau duri kecil yang menempel. Posisi berubah, kadang aku di atas, kadang dia. Tapi aku tetap yang memegang kendali, memandunya. Aku menggigit bahunya, mencakar punggungnya. Dia membalas dengan cengkeraman erat di pinggulku, mendorongku lebih dalam, lebih keras. Dunia seolah menyempit hanya menjadi dua tubuh yang berpelukan, dua jiwa yang saling mencari pelarian, dia dari kekosongan ingatan, aku dari kesepian yang menggerogoti. Dan di puncak kesibukan kami, saat aku sedang berada di atasnya, bergerak dengan liar, kepala mendongak dan mata tertutup, tiba-tiba suara yang tak dikenal menerobos gelombang kenikmatan kami. "Woi! Lihat itu! Asyik banget sih! PRIKITIWWWW!!" Suara itu, suara seorang muda, kasar, penuh ejekan, membuatku membeku seketika. Mataku terbuka lebar mencari cari asal suara. Andi juga berhenti bergerak, wajahnya berubah dari ekstasi menjadi kewaspadaan. Dari balik rumpun pohon pisang di ujung ladang, muncul dua sosok lelaki muda. Mereka membawa senapan angin di pundak dan mengangkat beberapa ekor burung hasil buruan. Yang satu bertubuh tinggi kurus dengan rambut ikal, wajahnya tajam dan sinis. Yang satunya lebih pendek dan berotot, dengan senyum nakal yang menganga. Mereka berusia sekitar dua puluhan, dan aku mengenal mereka: Arfan, putra Pak Lurah, dan Reza, teman nya yang seorang pedagang di pasar desa. Mereka dikenal sebagai pemuda nakal yang sering berburu secara liar di sekitar hutan. Wajahku langsung memanas, memerah oleh campuran malu, panik, dan kemarahan. Aku berusaha menutupi tubuhku dengan tangan, tetapi itu sia-sia. Andi dengan cepat menarik tubuhku ke samping, melindungiku dengan tubuhnya yang lebih besar, sambil berusaha menarik celananya yang tergeletak di dekatnya. "Wah, jangan malu-malu, Mak Iroh! Ciyeee... Enak nih yeee" teriak Arfan, si rambut ikal, sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Teruskan saja! Kami nonton gratis, kok!" Reza, si pendek, ikut tertawa. "Iya, nih. Baru tahu kalau Mak Iroh yang terkenal pendiam dan menjanda cukup lama ternyata hot juga ya? Main petak umpet sama cowok muda di ladang. Siapa tuh, Mak? Dibungkus dari mana? Ganteng juga dia." Kata-kata mereka seperti cambuk di kulitku. Rasa malu yang dalam berubah menjadi ketakutan. Desa kecil ini penuh dengan gosip. Jika mereka menyebarkan apa yang mereka lihat, hidupku dan kehidupan Andi yang sudah rentan akan hancur. Aku bukan lagi janda yang patut dikasihani, tapi menjadi bahan tertawaan dan cibiran. Dan Andi? Orang akan bertanya-tanya siapa dia? Darimana asalnya. Bisa-bisa warga desa akan mencurigainya, identitasnya yang misterius terungkap, dan dia akan diambil dariku. "Pergi dari sini!" teriakku, suaraku gemetar namun berusaha keras. "Ini bukan urusan kalian!" bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN