"Pergi dari sini!" teriakku, suaraku gemetar namun berusaha keras. "Ini bukan urusan kalian!"
"Loh, ini kan ladang umum, Mak!? Kami bebas lewat dong," kata Arfan sambil mendekat beberapa langkah, matanya tajam menyapu tubuh Andi yang setengah terbuka. "Tapi yang tidak biasa adalah melihat janda kesepian main guling-guling dengan cowok muda yang tidak dikenal. Kamu siapa, mas? Kok bisa ada di sini?"
Andi berdiri sekarang, sudah berhasil mengenakan celananya, meski kancingnya belum sempat. Dia melangkah maju, menempatkan dirinya di antara aku dan dua pemuda itu. Tubuhnya yang tinggi dan berotot, meski terluka, terlihat mengancam. Wajahnya yang biasanya polos dan bingung, kini berkerut oleh sesuatu yang primitif, protektifitas. Matanya menyipit, ada kilatan berbahaya yang aku belum pernah lihat sebelumnya.
"Kami tidak mengganggu kalian. Pergilah," kata Andi, suaranya rendah namun penuh wibawa. Sebuah nada yang tidak pernah kudengar darinya. Seolah-olah, dalam situasi terdesak, sebagian dari karakternya yang asli akhirnya muncul.
Arfan dan Reza terkesiap sebentar, mungkin terkejut oleh perubahan sikap Andi. Tapi mereka cepat kembali percaya diri, jumlah mereka dua, dan mereka juga membawa senapan.
"Jangan marah marah, mas. Kami cuma bercanda kok," kata Reza, tapi senyumnya masih nakal. "Tapi bercanda atau tidak, berita menarik kayak gini bakal cepat menyebar. Apalagi kalau sampai ke telinga Pak Lurah."
Ancaman itu jelas. Arfan, sebagai putra lurah, memiliki pengaruh. Jika dia bicara, seluruh desa akan tahu dalam hitungan jam.
Ketakutan mencekik tenggorokanku. Aku melihat Andi. Dia tampak tegang, tinjunya terkepal. Aku tahu dia bisa melawan, tetapi itu akan memperburuk keadaan. Dan luka di dadanya belum sembuh total.
"Tolong," bisikku, lebih kepada Andi. "Jangan berkelahi. Ayo kita pergi."
Andi menatapku, lalu melihat dua pemuda itu. Nafasnya berat. Akhirnya, dia mengangguk. Dengan gerakan cepat, dia mengambil dasterku yang tergeletak dan menyelubungkannya di tubuhku. Lalu, dia menggandeng tanganku erat.
"Kami pergi. Dan kalian sebaiknya melupakan apa yang kalian lihat," kata Andi sekali lagi, dengan nada yang membuat kedua pemuda itu terdiam sejenak.
Kami berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ladang, meninggalkan keranjang-keranjang hasil panen dan alat-alat kerja. Aku bisa mendengar tawa mereka yang makin keras di belakang kami, disertai komentar-komentar kasar yang masih bisa kudengar.
"Wah, kabur ni ye! Mau lanjut main di rumah ya, Mak!? Besok-besok cari tempat yang lebih tersembunyi lagi, ya, Mak! Di kuburan misalnya hahahah"
"Si cowok kayaknya jago juga, tuh. Liat tatapan tadi? Kayak mau makan orang!"
Tawa mereka seperti pisau yang mengoyak-oyak harga diriku. Air mata karena malu hampir mengalir di pipiku, tapi aku menahannya. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan Andi.
Kami berjalan hampir berlari menuju rumah. Setiap langkah terasa berat, dipenuhi rasa malu dan ketakutan. Sesampainya di rumah, kami langsung masuk, dan aku mengunci pintu kayu yang sebenarnya tidak begitu kuat. Nafas kami sama-sama terengah engah, d**a naik turun dengan cepat.
Andi mendekatiku, wajahnya penuh kekhawatiran. "Mak Iroh, kamu baik-baik saja?" Tanyanya mengusap air mataku yang akhirnya meluap.
"Aku malu sekali, Andi. Sangat malu," isakku, tubuhku gemetar. "Mereka pasti akan menyebarkan berita ini. Seluruh desa akan tahu. Mereka akan mencarimu, bertanya siapa kamu. Dan aku... aku akan disebut perempuan tidak senonoh, janda gatel penggoda lelaki huhuhu."
"Tidak," kata Andi dengan tegas. Dia memelukku erat. "Kamu tidak seperti itu. Kamu hanya... manusia. Dan aku juga ingin itu. Ini kesalahan kita berdua, bukan hanya kamu."
Tapi kata-katanya tidak menghilangkan kekhawatiranku. "Apa yang harus kita lakukan? Arfan adalah putranya pak lurah. Dia bisa membuat masalah untuk kita. Mereka bisa mengusirmu dari sini, atau melaporkanmu ke polisi karena dicurigai sebagai penjahat."
Wajah Andi menjadi serius. Pikirannya seolah bekerja keras, mencoba mencari solusi dari ruang kosong memorinya. "Aku tidak akan pergi. Aku akan melindungimu."
"Bagaimana caramu melindungiku? Kamu bahkan tidak tahu siapa dirimu!" kataku, sedikit frustrasi. Tapi segera aku menyesal. "Maaf, aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa," potongnya. Matanya menerawang. "Aku memang tidak tahu siapa aku. Tapi aku tahu satu hal sekarang: aku peduli padamu. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu." Ucapannya tulus, dan itu membuat hatiku sedikit tenang, meski ketakutan masih membayangi.
Kami duduk di lantai ruang tengah, masih dalam pelukan, mencerna apa yang baru saja terjadi. Suasana panas dan b*******h di ladang telah berubah menjadi dingin dan mencekam.
"Kita harus mandi," kataku akhirnya, setelah nafas kami mulai teratur. "Kita kotor dan... baunya mungkin masih ada."
Andi mengangguk. "Tapi bagaimana dengan mereka? Apa mereka masih ada di sekitar sini?"
Aku mendekati jendela kecil, mengintip keluar. Ladang di kejauhan tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda Arfan dan Reza masih di sana. "Sepertinya mereka sudah pergi. Tapi kita harus hati-hati. Aku akan periksa dulu."
Dengan jantung berdebar, aku membuka pintu perlahan dan melongok ke luar. Suasana sunyi seperti biasa. Hanya ayam-ayam peliharaanku yang berkeliaran di halaman. "Aman," bisikku.
( Bersambung)