“Hanina! Apa yang kau lakukan di sini?!”
Wanita yang baru memasuki ruangan itu berteriak pada Hanina, dan berusaha menyeretnya pergi.
“Zahra, apa yang kau lakukan? Le- lepaskan.”
Hanina berusaha menarik tangannya yang dicengkram kuat oleh Zahra, sahabatnya. Selama ini Zahra tahu apa yang Hanina alami, akan tetapi ia tak bisa melarikan apapun. Sudah berulang kali ia menasehati Hanina, tapi dia sangat keras kepala. Sebelum Hanina tahu kebenaran tentang Agra, dia selalu berpikir kelak Agra akan berubah. Ia telah buta oleh cinta.
“Mau sampai kapan kau bodoh, Han? Mau sampai kapan?! Setelah semua yang dia lakukan, kau masih mau bersamanya? Sekarang kesempatanmu, dia lupa padamu jadi tinggalkan dia!” ucap Zahra lantang seraya menunjuk Agra.
Agra hanya diam dalam kebingungan. Ia tidak mengenal Zahra, pun tidak tahu kenapa dia marah-marah seakan ia adalah penjahat.
“Kau, kenapa kau tidak mati saja?! Harusnya kau–”
Ucapan Zahra terhenti sebelum ia selesai bicara karena tamparan dari Hanina. Ya, Hanina menamparnya. Walau tidak terlalu keras, tapi berhasil membuat Zahra terpukul karenanya.
“Sudah, Zah! Cukup!” tegas Hanina kemudian menarik tangan Zahra, membawanya keluar dari ruangan.
Di luar, Hanina segera memeluk Zahra dan meminta maaf. Ia tidak bermaksud melukai Zahra, ia hanya tak ingin Zahra bicara lebih banyak dan mungkin akan memantik ingatan Agra.
“Lepas!” bentak Zahra berusaha melepas dekapan Hanina. “kau ini kenapa, Han? Kau sampai tega menamparku hanya karena si b******k itu! Sampai kapan kau mau begini? Kapan kau akan sadar!”
“Maaf, Zah. Maaf. Dengar dulu penjelasanku, kumohon dengar dulu,” ucap Hanina seraya menggenggam erat kedua tangan Zahra. “kau benar, selama ini aku sangat bodoh. Tapi sekarang aku sudah sadar.”
“Apa? Sadar? Lalu apa yang kau lakukan di dalam?! Kalau kau sadar, harusnya kau melempar surat cerai ke wajah b******k itu! Apa kau lupa apa yang sudah dilakukannya selama ini padamu?”
“Ya, aku tahu. Aku tahu. Dengarkan aku dulu.”
Hanina akhirnya menjelaskan pada Zahra tentang rencananya, tapi tidak memberitahu rahasia yang Agra sembunyikan.
“Apa? Apa kau gila? Tapi itu sangat berisiko, Han!” tegur Zahra. Bukannya mendukung, ia sama seperti Yogi yang khawatir. Rencana balas dendam Hanina mungkin sempurna, tapi mengingat betapa kejamnya Agra selama ini, ia khawatir Hanina terjerat lagi.
“Tapi aku sangat ingin melihatnya menderita, Zah! Aku ingin melihatnya merasakan rasa sakit yang selama ini aku rasakan, bagaimana dia mengkhianatiku. Luka di tubuhku ini tak sebanding dengan rasa sakit ketika dia memaksaku melihatnya bersetubuh dengan wanita lain. Aku ingin sepertinya, Zah. Aku ingin menghancurkan perasaannya. Saat dia mengira aku adalah istri sempurna, di saat itu aku menjadi pedang yang mengoyak perasaannya,” ujar Hanina seraya menepuk d**a, mengungkapkan rasa sakit yang serasa tak bisa ia jelaskan hanya dengan kata.
Zahra hanya diam, mencoba memahami maksud dan tujuan Hanina.
“Apa tak ada cara lain, Han?” tanya Zahra dengan mata berkaca-kaca sambil menggenggam kedua tangan Hanina yang berkeringat. “kau pergi di saat seperti ini juga sudah termasuk balas dendam, kan? Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, biarkan saja dia luntang-lantung di jalan. Biarkan dia jadi gelandangan, lalu mati kelaparan,” imbuhnya.
“Itu bukan hukuman, Zah. Dia lupa padaku, dan sampai mati mungkin akan lupa padaku dan lupa apa yang telah dia perbuat dulu. Dia tak akan merasa tersiksa, dia tidak akan merasakan sakit sama seperti yang dia berikan padaku dulu,” kata Hanina menggebu.
Zahra mencoba menyelami perasaan Hanina lewat raut wajahnya. Ia tak ingin Hanina berbohong, menggunakan alasan balas dendam padahal dia masih memberi Agra kesempatan. Namun, ia tak menemukan kebohongan, yang ia temukan justru kebencian yang membara dan niat balas dendam sungguhan. Apakah ia bisa mempercayai Hanina sepenuhnya?
“Ehm.”
Tiba-tiba sebuah deheman terdengar, berasal dari Yogi yang berjalan mendekat. Sebenarnya Yogi sudah melihat semuanya sedari tadi, tapi memilih hanya diam dan menyaksikan dari kejauhan.
“Aku tahu apa yang kau khawatirkan, tapi percaya lah, Hanina tidak akan jatuh ke lubang yang sama kedua kalinya,” ucap Yogi setelah berdiri tak jauh dari Hanina.
“Apa kau yakin, Gi? Kau tahu sendiri Hanina sangat–”
“Ya. Aku yang akan memastikannya,” kata Yogi menyela ucapan Zahra seraya menatap Hanina.
Tak lama kemudian, Hanina duduk di kursi tunggu dengan Yogi di sebelahnya. Sementara Zahra, ia sudah pergi. Zahra adalah adik Alex, karena itu lah ia tahu Hanina dan Agra di rumah sakit, tentu saja diberitahu oleh sang kakak.
“Terima kasih sudah membantu meyakinkan Zahra,” ucap Hanina. Ia harap Zahra tak lagi mengungkit masa lalu apalagi di depan Agra.
Yogi hanya mengangguk. “Kalau begitu, cepat masuk. Jangan sampai dia curiga,” ucapnya seraya menunjuk pintu kamar Agra dirawat menggunakan dagu.
Hanina mengangguk pelan kemudian bangkit dari duduknya, meninggalkan Yogi yang tetap di posisinya.
Yogi menatap Hanina dalam diam hingga Hanina tak lagi terlihat setelah pintu tertutup. Ia lalu mengambil ponsel dari dalam saku celana dan menghubungi seseorang.
“Halo, sudah menemukannya?” tanya Yogi setelah panggilan terhubung.
“Belum, Tuan. Saya curiga dia menggunakan identitas baru.”
Mendengar itu,u Yogi hanya diam dan mengakhiri panggilan setelah memberi perintah, bagaimanapun caranya harus menemukan orang yang ia cari. Satu-satunya saksi kunci yang tahu seluruh kebenaran yang sebenar-benarnya.
Di lain sisi, Hanina mendapatkan perhatian Agra sepenuhnya saat memasuki ruangan.
“Di mana perempuan tadi? Dia siapa?” tanya Agra.
“Dia … temanku, Zahra,” jawab Hanina.
“Kenapa dia marah padaku? Apa yang sebenarnya terjadi, aku benar-benar bingung? Dia marah seakan-akan aku orang jahat. Sebenarnya, kenapa? Akh!”
Agra memegangi kepala yang berdenyut sakit, meringis seakan sakitnya seperti menusuk-nusuk kala emosinya tak terkendali, kala berusaha mengingat Zahra dan masa sebelum mengalami kecelakaan.
“A- apa yang–”
Hanina tampak kebingungan, tak tahu harus melakukan apa melihat Agra merintih kesakitan. Pria itu menjambak kuat rambutnya membuat Hanina cemas. Ia khawatir yang dilakukannya kembali membuka luka di kepala. Ia ingin menenangkannya seraya memanggil dokter, tapi ia terlalu takut mendekat.
“Argh!” Ringisan Agra perlahan menjadi teriakan membuat Hanina terjingkat. Tak ingin terjadi sesuatu, ia segera keluar memanggil dokter.
Cukup lama kemudian, Agra terlihat memejamkan mata. Setelah dokter datang mengatasinya dan memberinya obat, ia tertidur cukup pulas.
“Apa ini semua gara-gara adikku?” tanya Alex.
Hanina hanya diam di mana pandangannya mengarah pada Agra. Di saat melihat Agra tertidur seperti ini, ia terlihat seperti anak polos yang tak tahu apa-apa, yang tak memiliki dosa.
“Dasar anak itu. Aku sudah memperingatkannya,” gumam Alex sambil memijit pangkal hidungnya. “usahakan dia tidak terlalu banyak berpikir, Han. Jika perlu, jangan ungkit masa lalu atau apapun yang membuatnya berusaha mengingat. Lagipula, memang itu yang kau inginkan, kan?” imbuh Alex memberi nasehat dan hanya mendapat anggukan oleh Hanina.
Tak lama, Alex telah meninggalkan ruangan, meninggalkan Hanina yang masih menemani suaminya.
Hanina duduk menatap tangannya di atas pangkuan, tepatnya pada cincin di jari manisnya. Padahal ia telah berniat balas dendam, merasa perasaannya telah mati untuk Agra. Tapi, kenapa ia merasa iba melihat Agra tampak amat kesakitan? Rasa iba itu bercampur dengan rasa takut membuatnya seperti kehilangan pendirian.
Hanina menggeleng pelan mengenyahkan pikiran yang berkecamuk di kepala. Ia tak boleh goyah, tak boleh mengecewakan Yogi. Apapun yang terjadi ia tak boleh kehilangan niat awalnya.
Tiba-tiba, Hanina teringat sesuatu yang membuatnya mengambil ponselnya. Ibu jarinya pun tampak lincah mengetik pesan pada seseorang. Namun, tiba-tiba ia menghapus lagi, lalu mengetik lagi, dan menghapusnya lagi. Entah pesan seperti apa yang ia ketik, entah pada siapa pesan itu aka ia kirim.
Setelah mengetik dan menghapus beberapa kali, akhirnya Hanina berhasil mengirim pesan. Tapi ada yang aneh. Setelah pesan terkirim, ia menundukkan kepala dalam dan meremas ponselnya dengan tangan berkeringat, wajahnya tampak memerah hingga telinga.
Di lain sisi, Yogi berjalan menuju mobilnya terparkir di parkiran rumah sakit. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti mendengar ponselnya berdenging. Mengambil ponselnya, matanya melebar membaca pesan dari Hanina. Karena isi dari pesan itu adalah, Yogi, ayo bercinta.