“Apa? Apa aku … tak salah dengar?” tanya Yogi sedikit terbata, seakan ucapan Hanina benar-benar mengejutkannya.
Hanina mengangguk tanpa ragu dan mengatakan, “Aku akan membuat Agra berpikir bahwa pernikahan kami sebelumnya adalah pernikahan yang sempurna. Lalu di saat yang tepat, akan kuberi dia pengkhianatan dan penghinaan.”
Hanina mengatakannya seolah itu begitu mudah. Hati yang sekarang dikuasai kebencian membuatnya yakin perasaannya telah mati, membuatnya yakin bisa dengan mudah menghancurkan Agra berkeping-keping.
Yogi hanya diam di mana sudut bibirnya menciptakan senyum masam. Apa yang Hanina katakan jelas bahwa dirinya hanya dijadikan alat, sebuah alat membalas dendam. Ajakan selingkuh bukan berdasar dari hatinya. Dalam hati ia pun berdecak dan bergumam, “Apa yang aku pikirkan?” Akan tetapi, terlalu mencintai Hanina membuatnya mengesampingkan rasa kecewa.
“Baiklah. Jadi, selingkuhan pura-pura, ya? Sejujurnya, aku sama sekali tidak keberatan jika selingkuh sungguhan,” ucap Yogi disertai kekehan kecil.
Hanina hanya diam. Ia tak mau melukai perasaan Yogi lagi lebih dari sebelumnya meski sebenarnya, menjadikan Yogi alat juga pasti melukai perasaannya.
Keesokan harinya, Hanina memoles wajahnya dengan make up, menyamarkan jejak luka yang masih sedikit meninggalkan jejak biru. Hari ini ia akan menemui Agra, memulai rencananya.
“Apa kau yakin dengan keputusanmu, Han?” tanya Yogi yang berdiri di depan ranjang, menatap Hanina yang tengah memoles lipstik di bibirnya.
Hanina mengakhiri sesi meriasnya. Dan sambil membereskan make up, ia menjawab pertanyaan Yogi. “Ya, aku sangat yakin.”
Yogi menatap Hanina dengan pandangan sulit diartikan. Entah kenapa ia merasa bahwa ini tidak akan berakhir seperti yang Hanina rencanakan. Namun, ia tak mungkin mengatakannya, atau melarang karena keputusan Hanina sudah bulat.
Cukup lama kemudian, Hanina telah berdiri di depan kamar di mana Agra dirawat. Ia masih ditemani Yogi yang berdiri di sebelahnya, seperti seorang pengawal yang mengantar Hanina kembali pada suaminya.
Hanina menatap pintu di hadapannya dengan tubuh gemetar. Ia gugup, apalagi teringat puncak kekerasaan yang Agra lakukan kemarin.
Yogi menoleh, menatap Hanina dari posisi dan bisa melihat kegugupan di wajahnya. “Mau batalkan saja?”
Hanina meremas clutch dalam genggaman kedua tangan. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya dari mulut lalu mengatakan, “Tidak. Aku sudah di sini, jadi aku tidak akan mundur.” Tangannya lalu terulur berniat membuka pintu.
Deg!
Jantung Hanina bergetar saat pintu terbuka. Kaki yang hendak ia langkahkan masuk ke dalam, tiba-tiba menjadi kaku. Berbagai ingatan saat Agra menyiksa lahir dan batinnya pun muncul, berputar bak komedi putar yang tak mau berhenti. Namun, teringat bagaimana kedua orang tuanya meninggal membuatnya memantapkan langkah kaki.
Di dalam, Agra hanya diam menatap langit ruangan. Ia tidak tahu siapa dirinya, dan bagaimana ia bisa ada di sana. Yang ia tahu, dokter mengatakan bahwa namanya Agra Hanif dan mengalami cedera kepala serius akibat kecelakaan.
Suara pintu yang terbuka terdengar membuat Agra mengarah pandangan dan menemukan seorang wanita berdiri dengan wajah pucat menatapnya.
Brugh!
Hanina merosot dengan tubuh gemetar hebat. Air mata juga mengalir tanpa bisa ia cegah tatkala pandangannya bertemu dengan netra sekelam malam milik Agra. Bukan karena ia terkejut melihat keadaan suaminya, tapi trauma yang membuatnya demikian. Masih teringat jelas dalam ingatan saat Agra berniat menghabisinya, suara ujung katana yang menggores lantai bahkan seakan masih berdengung di telinga.
Melihat itu, Agra yang sebelumnya berbaring, bangun dengan hati-hati. Ia duduk tanpa melepas pandangan dari Hanina.
“Kau … siapa? Apa … kau keluargaku?” tanya Agra.
Yogi mengepalkan tangan kuat di sisi tubuhnya. Ia lalu membantu Hanina bangun dan berdiri.
“Masih ada kesempatan jika kau tidak bisa melanjutkannya, Han,” bisik Yogi.
“Aku … bisa. Aku tidak apa-apa, Gi,” ucap Hanina sambil mengusap air mata. Ia lalu berjalan ke arah ranjang diikuti Yogi di belakangnya.
“Kalian, siapa?” tanya Agra menatap Hanina dan Yogi bergantian.
“Dia istrimu. Dan aku– sahabatmu.”
Rahang Yogi mengeras saat mengatakan itu. Walau hanya berbohong, rasanya sangat tak sudi mengaku sebagai sahabat Agra.
“Is- istri?” gumam Agra seraya menatap Hanina tanpa berkedip.
Hanina mengangguk lemah dan mengatakan, “Ya. Aku istrimu.”
“Be- benarkah? Jadi … aku sudah menikah?” gumam Agra dengan wajah polos seperti anak-anak. Sepertinya, ia benar-benar kehilangan ingatannya, bukan hanya pura-pura.
Gejolak aneh muncul di hati Hanina. Hatinya bergetar melihat Agra dengan kondisinya. Namun, ia segera melenyapkan perasaan itu, menghapusnya dengan kenangan pahit yang Agra berikan selama ini.
Keesokan harinya, Yogi berdiri di depan pintu kamar Agra dirawat, melihat lewat celah pintu yang sedikit terbuka, menatap Hanina yang sejak kemarin menemani suami brengseknya.
“Ehm.”
Yogi melirik seseorang yang berdehem dan telah berdiri di sebelahnya.
“Maaf, saya harus memeriksa pasien,” ucap orang itu yang tak lain adalah Alex.
Yogi hanya diam kemudian mengambil langkah mundur, menepi dari depan pintu. Namun, bukannya segera masuk, Alex justru menggantikan posisi Agra sebelumnya, dengan mengintip ke dalam ruangan.
“Jadi, pada akhirnya kau membiarkannya kembali pada suaminya?” tanya Alex.
Yogi hanya diam. Ia merasa tak perlu menjelaskan pada Alex tentang rencana Hanina.
Di dalam, Agra tak berhenti menatap Hanina. Meski ada banyak pertanyaan di kepala sejak Hanina menemuinya kemarin, mereka belum banyak bicara. Hanina tak banyak bicara, bahkan tak mengucap sepatah kata kecuali ia bertanya lebih dulu.
“Jadi, bagaimana kecelakaan itu menimpa kita?” tanya Agra. Kemarin Hanina sempat mengatakan alasannya baru muncul sehari setelah ia siuman, sebab dirinya juga dirawat setelah kecelakaan yang menimpa mereka.
“Kita kecelakaan karena … kau mengantuk. Kita pulang malam setelah menghadiri sebuah acara,” ujar Hanina merangkai kebohongan. Posisinya saat ini duduk di kursi di sisi ranjang, dan terus menundukkan kepala. Walau sudah bisa menguasai diri, tapi masih ada rasa takut menatap Agra terlalu lama.
Baru saja Agra hendak kembali bicara, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Alex berjalan memasuki ruangan dan mengatakan maksud dan tujuan, tentu saja memeriksa perkembangan keadaan Agra.
Setelah melakukan pemeriksaan, Alex mengatakan bahwa besok Agra sudah bisa pulang.
“Kalau begitu, saya permisi,” kata Alex saat akan meninggalkan ruangan setelah pemeriksaan selesai. Namun, sebelum itu terjadi, ia menepuk pelan bahu Hanina dan mengatakan, “Anda harus bersabar, karena tidak bisa dipastikan berapa lama suami Anda bisa kembali mengingat masa lalunya. Bisa selamanya, tapi … juga bisa hanya sementara.”
Tubuh Hanina menegang sesaat mendengar kalimat terakhir yang Alex katakan. Apakah itu sebuah peringatan?
Setelah mengatakan itu, Alex melanjutkan langkahnya pergi dari sana.
Tanpa Hanina sadari, Agra memperhatikan saat Alex memberinya pesan, dan seolah bisa membaca perubahan sikap dan raut wajahnya, menimbulkan sebuah tanda tanya.
“Han–”
Hanina terjingkat hingga terlonjak dari duduknya saat tangan Agra terulur hendak menyentuh plester di pelipisnya. Napasnya terengah, wajahnya seketika pucat dengan keringat yang mulai tampak.
Agra menatap Hanina dengan pandangan sulit diartikan di mana tangannya yang belum sempat menyentuh plester di pelipis Hanina, masih menggantung.
Perlahan tangan Agra turun, berbagai pertanyaan pun semakin berkecamuk. Jika benar Hanina istrinya, kenapa dia terlihat takut padanya? Tidak berani menatapnya lama, bahkan kontak fisik yang belum terjadi saja membuat Hanina berkeringat sedemikian rupa.
Hanina berusaha mengatur napasnya dan menguasai diri. Meyakinkan pada dirinya bahwa Agra tak akan melukainya lagi, meyakinkan kondisi Agra saat ini.
“Ma- maaf,” ucap Hanina saat ia kembali duduk di kursi.
“Apa aku menyakitimu?” tanya Agra.
Hanina hanya diam dengan mata mulai basah. Haruskah ia menjawab dengan jujur? Tentu saja, Agra telah menyakitinya.
Hanina kembali mengatur napasnya, menarik napas dalam dan mengembuskannya lewat mulut. Ia berusaha berdamai dengan keadaan dan berdamai dengan rasa trauma.
“Tidak. Dokter bilang, kecelakaan itu membuatku mengalami trauma. Apalagi kau akan menyentuh luka ini.” Menunjuk plester di pelipis.
Brak!
“Hanina!”
Tiba-tiba pintu terbuka lebar diikuti teriakan yang membuat Hanina dan Agra mengarah pandangan.