“Kau yakin?” tanya Yogi, sarat dengan ketidak percayaan.
“Kau meragukan hasil pemeriksaanku?”
Yogi terdiam sejenak. Bukan ia meragukan Alex, hanya saja ia khawatir jika Agra hanya pura-pura, selama ini Agra sangat pandai bersandiwara. Tapi, bukankah pikirannya itu keterlaluan? Karena dirinya, Agra hamnesia.
“Kau berhasil membuatnya mengalami cedera otak serius,” kata Alex sambil mengetuk pelipis kanannya dengan ibu jari. “tapi, ingin mendengar pendapatku? Harusnya kau menghabisinya daripada membuatnya amnesia seperti ini. Hanina tergila-gila padanya, tak menutup kemungkinan amnesianya justru Hanina manfaatkan,” sambungnya. Semua wanita yang bertahan dengan suami b******k mereka memiliki banyak alasan, dan salah satunya, yakin bahwa suaminya akan berubah. Jika Hanina tahu Agra amnesia, mungkin Hanina juga akan amnesia melupakan kejahatan Agra sebelumnya dan berpikir ini adalah kesempatan memperbaiki rumah tangga mereka.
Yogi hanya diam. Ia tahu maksud ucapan Alex dan itu ada benarnya.
“Bagaimana kalau sembunyikan dia saja? Jangan sampai Hanina tahu kalau suaminya amnesia. Sebagai seorang pria yang punya adik perempuan, aku juga tak rela jika Hanina kembali pada suaminya yang b******k dan b*****t itu. Saat ini dia mungkin akan seperti bayi yang tidak tahu apapun, tak punya dosa apapun. Tapi kita tidak tahu kapan dia akan mendapatkan ingatannya kembali dan kembali menyakiti wanita yang kau cintai,” ucap Alex seraya menepuk pelan bahu Yogi. Ia dan Yogi sudah berteman lama, tahu betapa besar cinta Yogi untuk Hanina. Sayangnya, Hanina sangat bodoh hingga memilih pria sebrengsek Agra.
Yogi tetap hanya diam di mana ia tengah berpikir. Jika menyembunyikan Agra, bukankah sama halnya dengan membohongi Hanina? Sama artinya ia seperti Agra dan ia tidak mau itu.
“Aku akan memikirkannya lagi,” ucap Yogi dan mengakhiri pembicaraannya dengan Alex.
Di dalam ruangan tempat Hanina terbaring, bulir-bulir keringat tampak menetes melewati pelipis. Tangannya juga terlihat meremas selimut dan gumaman samar lolos dari mulut.
“Ti- tidak. Jangan, jangan pergi Ayah, Ibu,” racau Hanina sebelum akhirnya ia membuka mata.
Napas Hanina terengah, bulir keringat semakin deras di wajahnya. Ia baru saja bermimpi tentang kedua orang tuanya, mimpi mereka pergi meninggalkannya sendirian dalam kegelapan.
Air mata Hanina mulai mengalir. Mimpi barusan kembali menimbulkan penyesalan. Andai saja ia tahu tujuan Agra sejak awal, kedua orang tuanya pasti masih ada.
Malam harinya, Yogi kembali sekitar pukul 19.00 WIB. Dan betapa terkejutnya dirinya saat tak menemukan Hanina di tempat tidur. Rasa cemas pun seketika menyeruak sampai tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, kelegaan kentara di wajahnya.
Yogi mengembuskan napas lega, sorot matanya tampak teduh menatap Hanina.
“Aku pikir kau kabur,” kata Yogi seraya berjalan menghampiri Hanina yang berjalan ke arah ranjang dengan langkah pelan.
“Aku kira kau tidak ke sini lagi,” kata Hanina yang hendak naik ke ranjang.
“Mana mungkin aku tega meninggalkanmu sendiri? Aku hanya pulang untuk mandi dan ganti baju,” kata Yogi dan segera menahan tubuh Hanina yang hampir jatuh saat ia terpeleset kala hendak naik ke ranjang.
“Te- terima kasih,” ucap Hanina kemudian memposisikan diri senyaman mungkin setelah berhasil naik ke atas ranjang.
“Ngomong-ngomong, apa kau tak mau tahu kabar suamimu? Dia sudah siuman,” ucap Yogi setelah ia duduk.
Tubuh Hanina menegang sesaat. Ia bahkan terlihat menelan ludah. Setelah tahu alasan di balik kejamnya Agra padanya, dan fakta bahwa Agra menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya, ia tidak pernah ingin lagi mendengar namanya walaupun kenyataannya, wajah Agra dan kenangan yang pernah mereka lalui terus saja muncul dalam kepala.
“Setelah kau tahu semuanya. Kau tidak berniat kembali melanjutkan pernikahan kalian, kan, Han?” Yogi bertanya sarat nada kecemasan. Jika setelah semua yang Hanina ketahui tapi dia masih ingin tetap bersama Agra, mungkin setelah ini ia tak akan peduli lagi. Tapi, benarkah?
Hanina hanya diam dan tenggelam dalam banyaknya ingatan yang menyenangkan dan menyedihkan, menciptakan kemarahan dan kecewa yang mendalam.
“Aku … tidak akan membiarkannya. Dia sudah membunuh ayah dan ibuku. Aku ingin … aku ingin … dia membayarnya,” ucap Hanina dengan kilatan kemarahan yang terpancar pada kedua netranya.
Yogi menatap Hanina dalam diam dan mengembuskan napas berat dari mulutnya.
“Kuharap kau serius dengan ucapanmu itu. Dan kuharap kau tidak berubah pikiran jika tahu kalau dia–”
Yogi menggantung ucapannya, masih ragu apakah harus bicara atau tidak tentang keadaan Agra. Namun, pada akhirnya ia memutuskan memberitahu Hanina.
“Dia amnesia,” lanjut Yogi.
“Apa? Amnesia?” gumam Hanina. “kalau begitu, dia lupa semuanya? Lupa denganku?”
Yogi mengangguk. “Alex mengatakan pukulanku membuat cedera serius di kepalanya. Awalnya kupikir, Agra mungkin bisa saja pura-pura. Tapi Alex sudah memeriksanya dan … seperti itu lah yang dia katakan, Agra amnesia,” jelas Yogi. “tapi, bukankah ini kabar yang bagus, Han? Kau bisa lepas darinya. Dia lupa padamu, jadi ini kesempatanmu untuk memulai hidup yang baru,” imbuhnya.
Hanina tersenyum kecut, tapi kilatan kebencian masih bertahan di wajahnya. “Tidak semudah itu. Dia harus membayar semuanya.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Bagaimana jika nanti tiba-tiba dia ingat semuanya dan kembali melukaimu? Aku tahu perasaanmu, Han, tapi ingat semua yang sudah dia lakukan padamu. Dia pasti akan mendapatkan karmanya. Ini kesempatanmu pergi dan memulai hidup baru tanpa dirinya,” ucap Yogi di mana raut wajahnya menunjukkan harapan besar agar Hanina melupakan kebenciannya pada Agra dan memulai hidup baru dengannya. Tak peduli bagaimana perasaan Hanina padanya, ia tak akan membiarkan Hanina kembali tercebur ke lubang penderitaan.
“Kalau kau tahu perasaanku, harusnya kau membantuku, Gi! Bantu aku membalas luka yang telah dia berikan padaku! Dia sudah membunuh kedua orang tuaku! Dia sudah menghancurkan aku, sangat hancur sampai-sampai serpihannya jadi debu. Kalau kau tahu perasaanku, harusnya kau membantuku membalas dendamku, bukan memintaku melupakan semua yang telah dia lakukan padaku dan keluargaku!” ucap Hanina lantang dan menggebu, meluapkan perasaannya, rasa sakitnya. Anggap saja ia egois, meminta bantuan Yogi padahal dulu pernah menolaknya mentah-mentah. Tapi ia tak peduli, ia ingin menghancurkan Agra, sama seperti Agra telah menghancurkannya.
Yogi terdiam tak mampu berkata-kata. Namun, kepasrahan terlihat di wajah.
“Baiklah. Baiklah, Han. Aku akan membantumu. Lalu, apa yang akan kau lakukan, dan apa yang harus aku lakukan?”
Hanina tak segera menjawab menciptakan keheningan di dalam ruangan. Suaranya baru terdengar setelah ia mengambil keputusan.
“Ayo selingkuh,” ucap Hanina dan berhasil membuat mata Yogi melebar.