“Awas!”
“Ah!”
Hanina memekik kala ia tersungkur. Ringisan pun terdengar merasakan perih di kedua lutut.
“Sssh ….” Hanina mendesis saat ia berusaha bangun dan terkejut melihat Agra mendekat dengan kepala berdarah.
“Nona, Anda baik-baik saja?” tanya Agra yang tampak khawatir menatap Hanina. Dan saat pandangannya turun, ia melotot melihat lutut Hanina berdarah. “Nona! Lutut Anda!” ucapnya kemudian segera mengangkat tubuh Hanina, menggendongnya ala bridal style membawanya ke mobil untuk ia antar ke rumah sakit.
“Agra, kepalamu,” ucap Hanina saat ia berada dalam gendongan Agra. Lututnya memang perih, tapi sepertinya luka di kepala Agra jauh lebih perih dan lebih membutuhkan pertolongan segera.
“Tidak penting. Yang penting adalah Anda,” ucap Agra sambil terus melangkah menuju mobil Hanina.
Hanina menatap Agra dengan pandangan sulit diartikan. Agra adalah sopir pribadi ayahnya. Ia bekerja sekitar 1 bulan yang lalu. Pria itu tampan dan sangat ramah. Ia juga pria yang sangat baik. Ayahnya memperkerjakannya setelah Agra menyelamatkan ayahnya dari perampokan. Sebagai bentuk balas budi, ayahnya mempekerjakan Agra yang kebetulan sedang mencari pekerjaan.
Cukup lama kemudian, Hanina telah berada di rumah sakit dan lukanya sudah diobati. Sementara Agra, ia masih mendapat penanganan karena luka di kepalanya harus dijahit.
Sebelumnya Hanina bertemu teman-temannya di sebuah restoran. Dan karena ia ada urusan, ia pulang lebih dulu akan tetapi, kejadian naas yang hampir menimpanya terjadi. Saat ia keluar dari restoran, sebuah pot bunga di lantai 2 jatuh. Ia sama sekali tak sadar akan hal itu. Ia baru sadar saat Agra berteriak sambil berlari lalu mendorongnya.
“Nona. Bagaimana keadaan Anda?”
“Kenapa kau masih bertanya? Harusnya aku yang bertanya padamu,” kata Hanina menatap perban yang di kepala Agra.
“Ah, ini hanya luka kecil,” kata Agra kemudian pandangannya turun pada lutut Hanina dan wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang sangat. “Nona, maaf, gara-gara aku lutut Anda jadi–”
“Diam. Ini kecelakaan. Selain itu, harusnya aku berterima kasih padamu. Terima kasih sudah menyelamatkan aku. Luka di lutut ini jauh lebih baik dari pada luka jahitan di kepala,” potong Hanina sambil menunjuk kepala Agra.
Agra tersenyum tipis, menunjuk luka di kepalanya dan mengatakan, “Ini bukan apa-apa. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Anda yang terluka.”
Hanina menatap Agra dengan pandangan tak terbaca. Namun, semburat kemerahan tampak muncul di wajah ayunya.
Cukup lama kemudian, Hanina telah berada di rumahnya dan menceritakan kejadian tadi pada sang ayah, Gading Wijaya.
“Untung saja Ayah menyuruh Agra menjemputmu. Jika tidak, entah apa yang terjadi,” ucap Gading disertai hela napas berat.
“Tapi Agra baik-baik saja, kan, Han?” tanya Gina Amanda, ibunda Hanina.
Hanina mengangguk. “Tapi, sepertinya mendapat beberapa luka jahit, Bu,” jawabnya.
“Ya ampun, kasihan sekali,” gumam Amanda. “Agra sekali lagi sudah menyelamatkan keluarga kita, Yah. Dulu dia menyelamatkanmu saat hampir dirampok, sekarang dia menyelamatkan Hanina,” ujarnya kemudian pada sang suami yang duduk di sampingnya.
Hanina yang duduk di sofa tunggal sebelah sofa yang kedua orang tuanya duduki, terdiam mengingat kejadian siang tadi. Jika Agra tidak menyelamatkannya, sekarang kepalanya pasti yang ditambal perban. Tiba-tiba terbesit ingatan kala Agra tersenyum manis padanya membuat jantungnya berdebar. Ia pun segera menggeleng mengenyahkan ingatan itu.
“Ada apa, Han?” tanya Gina melihat sang putri menggelengkan kepala dan wajahnya memerah.
“Ti- tidak, Bu. Ya sudah. Aku mau ke kamar,” kata Hanina kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya di lantai 2.
“Apa Ayah lihat itu? Jangan-jangan Hanina naksir Agra,” ucap Gina disertai tawa kecil menatap kepergian Hanina. Walau termasuk keluarga kaya dan terpandang, Gina bukan orang tua yang memandang kasta. Jikalau Hanina menyukai Agra, ia akan merestuinya karena baginya Agra adalah pahlawan dan pria yang begitu baik.
“Kalau itu benar, apa tidak apa-apa kita punya menantu sopir?” tanya Gading, seraya menatap sang istri.
“Memangnya kenapa? Ayah tidak setuju? Tapi Agra baik, dia juga sudah menolongmu waktu itu. Kau berhutang nyawa padanya, ingat?”
Gading menghela napas dan mengatakan, “Hm. Kau benar. Di dunia ini harta, jabatan, bisa dicari tapi hati yang tulus dan sifat baik hati sudah mulai susah ditemui. Meski begitu, kita tidak perlu ikut campur. Biarkan saja mereka menjalaninya."
***
Hanina membuka mata teringat kejadian itu. Sudah lama, tapi masih membekas dalam ingatannya. Waktu itu sebelum ia benar-benar pergi, ia mendengar apa yang kedua orang tuanya katakan, membuatnya semakin merasakan debaran di d**a karena mendengar orang tuanya memberinya lampu hijau jika menjalin hubungan dengan Agra.
Hanina memejamkan mata dan setetes air mata pun jatuh. Sekarang ia paham kenapa dulu Agra bak pangeran yang selalu ada hingga rela mempertaruhkan nyawa, semua agar dia bisa masuk dalam kehidupannya, membuatnya jatuh cinta lalu akhirnya menenggelamkannya pada neraka.
“Aku bawakan makan siang.”
Hanina hanya diam dan menoleh ke arah jendela saat Yogi memasuki ruangan. Ia tak ingin Yogi melihatnya menangis.
“Makanan rumah sakit biasanya tidak enak. Jadi kubelikan makanan kesukaanmu,” kata Yogi seraya meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja dekat ranjang dan menyiapkannya. Setelah selesai, ia menarik kursi di bawah ranjang lalu duduk dan bersiap menyuapi Hanina.
“Ayo, makanlah. Mumpung masih hangat,” kata Yogi.
Hanina memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menoleh menatap Yogi. “Kenapa kau masih peduli padaku?” tanyanya. Yogi adalah pria yang pernah menyatakan cinta padanya, tapi ia tolak dan lebih memilih Agra.
Yogi berdecak lalu mengatakan, “Kau harus makan. Lihat, tulang lehermu sampai terlihat. Berapa berat badanmu?”
Yogi sengaja mengalihkan topik pembicaraan seakan tak mau menjawab pertanyaan Hanina. Namun, melihat bagaimana Hanina menatapnya, ia pun menghela napas dan menjawab, “Bukankah sudah jelas? Tentu saja karena aku masih memiliki perasaan yang sama padamu. Dulu, aku menyerah karena kau sangat mencintai pria itu. Kupikir, selama kau bahagia, aku bisa rela. Tapi setelah melihat semua yang terjadi, apa kau tahu bagaimana setiap hari aku menyesal? Jika bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke hari di mana kalian menikah lalu menculikmu, membuatmu hamil sepuluh anakku agar kau tak bisa ke mana-mana.”
Sudut bibir Hanina terangkat menciptakan senyuman yang begitu tipis. Amat tipis. Sebuah senyuman yang sejak menikah dengan Agra sangat jarang sekali ia miliki bahkan hampir tak pernah.
Tiba-tiba senyuman Hanina lenyap sebelum ia kembali bertanya, “Jadi, darimana kau tahu semuanya?”
Yogi mengembuskan napas dari mulut lalu mengatakan, “Begini, saja. Satu pertanyaan dan jawaban, dua suapan, bagaimana?”
Hanina terdiam berpikir sejenak. “Satu,” ucapnya menawar. Sebenarnya rahangnya sakit ketika mengunyah, membuatnya kehilangan nafsu makan.
Yogi hanya diam dan menatap Hanina cukup lama, menatap jejak luka di wajah ayunya. Memar di rahang, pelipis tertambal plester, sudut bibir yang robek dan area mata yang bengkak membuat dadanya sesak. Belum lagi banyak luka lama dan baru di tangan dan kakinya. Ia benar-benar tak bisa membayangkan sebangsat apa Agra saat menyiksa istrinya. Tapi, karena sudah tahu alasan Agra, ia masih sedikit bersyukur setidaknya Hanina masih hidup.
“Yogi.”
Yogi tersentak mendengar Hanina memanggilnya, menyadarkannya dari tenggelamnya pikiran.
“Jadi, dari mana kau tahu semuanya?” tanya Hanina kembali. Setelah kemarin Yogi memberitahunya fakta yang membuatnya hampir tak percaya, tak ada lagi pembicaraan tentang itu. Tapi ia berharap, Yogi memberitahunya kali ini agar ia yakin, Yogi tidak mengarang cerita.
“Satu suapan dulu, lalu aku akan menjawabnya,” kata Yogi seraya mengambil sesendok nasi dan sepotong katsu lalu menyodorkannya pada Hanina.
Hanina menatap sesendok makanan itu sebelum akhirnya membuka mulut. Ringisan pun terdengar saat ia mencoba membuka mulut lebih lebar membuat rahang Yogi mengeras. Ia marah, wanita yang ia cinta menderita sampai seperti ini.
Hanina mengunyah pelan setelah sesuap nasi masuk ke dalam mulut. Tapi, karena tak sabar ingin mendengar penjelasan dari Yogi, ia berusaha mengunyah dengan buru-buru.
“Jawab pertanyaanku,” ucap Hanina setelah menelan kunyahan makanannya.
“Buku catatan,” ucap Yogi. “aku mendatangi rumah lamanya dan menemukan sebuah buku catatan. Di sana tertulis, bahwa orang tuanya meninggal karena orang tuamu jadi dia berniat balas dendam,” jawab Yogi.
“Buku … catatan?” gumam Hanina.
Yogi setengah menunduk menatap makan siang Hanina di atas pangkuannya dengan tatapan sendu. “Setelah kau menikah, aku pergi karena kupikir, aku bisa melupakanmu. Tapi saat aku mendengar dari Alex mengatakan apa yang terjadi padamu, aku tak bisa menahan diri,” ucapnya kemudian mengangkat kepala menatap Hanina. “tapi apa kau ingat? Saat aku menemuimu hari itu dan memintamu berpisah dari suamimu kau menolak dan tetap ingin bersamanya.”
Hanina terdiam, bahkan tertegun melihat tatapan sendu Yogi untuknya. Ia pun meremas selimut yang menutupi sampai batas perut teringat penolakannya hari itu.
“Rasanya, aku sangat iri. Bahkan setelah apa yang dia lakukan padamu, kau tetap bertahan dan bersamanya tetap mencintainya. Saat itu aku hampir menyerah, sampai aku tersadar, jika bukan aku yang menyelamatkanmu dari lubang neraka itu, siapa lagi? Karena itu aku mencari tahu semua tentang Agra, dengan harapan menemukan sesuatu yang bisa kutunjukkan padamu, bukti bahwa dia tidak pernah mencintaimu. Jika dia mencintaimu, dia tidak akan bisa melukaimu walau hanya sedikit,” ujar Yogi. Tangannya lalu terulur berniat menyentuh sudut bibir Hanina dengan mata sedikit basah. Namun, sebelum itu terjadi, Hanina menarik kepala dengan wajah tampak pucat. Apa yang Yogi lakukan membuat Hanina teringat bagaimana Agra memberi luka di sana, membuatnya merasa takut jika Yogi akan melakukan hal serupa.
Tangan Yogi menegang sesaat kemudian kembali turun disertai senyum kecut yang tercipta. Mungkin Hanina memang tak ingin disentuh olehnya walau sedikit.
Di lain sisi, Agra masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit di mana sejak ia dibawa ke sana, ia belum juga siuman. Namun, tiba-tiba matanya mulai mengerjap perlahan.
Agra membuka matanya pelan dan saat matanya terbuka sempurna, ia hanya diam menatap langit ruangan.
Tiba-tiba suara derit pintu terdengar dan masuklah dokter dan seorang perawat ke dalam ruangan.
“Akhirnya Anda sadar,” ucap dokter setelah berdiri di sisi ranjang. Ia lalu memakai stetoskopnya untuk memeriksa Agra.
Agra menatap dokter pria itu dalam diam sampai tiba-tiba suaranya terdengar. “Kenapa aku di sini?” tanyanya dan tiba-tiba saja meringis sambil memegangi kepala.
Rahang dokter itu mengeras, tapi tetap bersikap profesional, ia menjawab, “Anda mengalami kecelakaan.”
Agra masih meringis dan memegangi kepalanya yang terbalut perban. “Ke- kecelakaan?” tanyanya.
Ringisan Agra semakin terdengar saat ia seperti berusaha mengingat-ingat. Melihat itu, dokter itu yang tak lain adalah Alex teman Yogi, mengernyitkan alis. Ia lalu mengatakan pada perawat yang menemaninya bahwa akan melakukan pemeriksaan lanjutan pada Agra melihat adanya indikasi amnesia.
***
Waktu menjelang sore saat Yogi bangkit dari duduknya. Ia berniat pulang sebentar untuk mandi, lalu kembali untuk menemani Hanina. Karena jika bukan dirinya yang menemani Hanina, siapa lagi?
Yogi menatap sejenak Hanina yang terlelap sampai tiba-tiba tersentak mendengar suara pintu terbuka.
“Syukurlah kau masih di sini,” ucap Alex yang berjalan memasuki ruangan.
“Ada apa?” tanya Yogi.
Alex hanya diam setelah berdiri di depan ranjang sambil menatap Hanina. Rasanya, masih teringat jelas dalam ingatan saat Hanina datang dengan luka di wajahnya dan wanita itu mengatakan, dia jatuh di kamar mandi. Satu kebohongan yang kerap kali ia dengar dari korban kekerasan rumah tangga.
“Bagaimana dia?” tanya Yogi yang membuat Alex mengalihkan perhatian dari Hanina.
“Ayo bicara di luar,” ajak Alex. Kedatangannya menemui Yogi memang untuk memberitahu kabar tentang Agra.
Tak lama, keduanya telah berada di luar ruangan Hanina dirawat, berjalan melewati lorong menuju lift.
“Selamat.”
Mendengar itu, Yogi menghentikan langkahnya, menatap Alex dengan alis berkerut.
Alex pun melakukan hal serupa, berhenti melangkah dan menatap Yogi dengan senyuman samar.
“Selamat. Pukulanmu sampai membuatnya amnesia,” ujar Alex dan berhasil membuat Yogi sedikit melebarkan mata.