Agra tersentak mendengar dering ponsel Hanina dalam tasnya di atas meja. Rasa penasaran pun timbul, kiranya siapa yang menghubungi istrinya itu. Agra mengarah pandangan ke arah dapur, memastikan Hanina masih sibuk mencari salep untuknya agar ia memiliki waktu melihat siapa yang menelepon. Awas saja jika yang menelepon Hanina adalah pria yang ditemuinya di mall tadi. Meski kalah melawannya, sebagai suami ia tetap pasang badan jika ada yang mendekati sang istri. “Sepertinya aman,” batin Agra kemudian berdiri berniat mengambil ponsel Hanina yang terus berdering. Namun, baru saja tangannya memegang ponsel itu, suara Hanina membuatnya setengah mematung. “Gra, apa yang kau lakukan?” Agra menelan ludah sebelum akhirnya kembali duduk. “A … tidak ada. Ponselmu dari tadi terus berdering jadi ak

