Arum berdiri terpaku di depan pintu sebuah ruangan. Bagas yang berdiri di samping Arum segera meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat untuk memberikan ketenangan padanya. “Kamu nggak perlu merasa ragu, disini dia yang salah bukan kamu,” bisik Bagas. Arum memberikan gelengan dengan sorot mata tegas menatap tajam ke arah pintu di hadapannya ini. “Aku bukannya ragu Bagas, aku malah sedang berusaha mengontrol emosi agar nggak kelepasan meluapkan amarah aku sama dia,” jelas Arum. Bagas tentu saja tidak menyangka dengan jawaban tersebut. Ia melupakan fakta bahwa walau Arum memiliki hati yang baik, namun ia bukanlah sosok wanita lemah yang gampang ditindas oleh orang lain. Hal itu kembali Bagas lihat saat ini. “Aku udah siap,” gumam Arum. Bagas mengangguk paham mendengar perkataan A