Rayya menoleh ke salah satu meja bundar di sana. Tidak ada Yudhistira dan Sabrina. Rayya tahu persis, tadi mereka berdua duduk di sana, di antara staff lainnya. Pandangannya mengedar. Tidak menemukan mereka. Kedua bola mata indahnya memicing. Huft! Dasar dua-duanya kegatelan! Lagi acara begini masih sempat-sempatnya kabur. Pasti mereka berdua lagi di kamarku atau di kamar Mas Yudhis nih. Tidak cemburu. Rayya sama sekali tidak cemburu. Hanya saja dia kesal. Kalau memang mereka berdua saling cinta dan mau menikah. Silakan saja! Rayya tidak keberatan sama sekali, bahkan sangat mendukung itu. Tapi—dia marah dan dendam karena keduanya sangat memanfaatkan Rayya. Memeras uang Rayya untuk tujuan mereka yang sudah direncanakan matang. Tiba-tiba terlintas di kepalanya. Ingin memberi pelajaran se

