“Loh? Kok buat saya Pak?” Rayya pikir, mungkin dia sudah salah dengar.
“Yaa memang buat kamu. Kalau Acha Septriasa dan Laura Basuki sudah ada wardrobenya.”
Rayya terdiam, mematung. Berusaha mencerna apa maksud kalimat si bos. Keningnya mengernyit. “Maksudnya buat saya, gimana ya Pak?”
“Pilih gaun yang paling kamu suka, untuk kamu pakai di acara gala dinner nanti malam.”
“Hah?”
“Pilih gaun yang paling kamu suka, untuk kamu pakai di acara gala dinner nanti malam.”
“Ck iya saya dengar, Paakk.”
“Oh, kirain hah tadi itu karena kamu nggak dengar.”
Rayya diam beberapa detik. Dalam kepalanya sibuk mencerna. Apa gerangan maksud terselubung dari pak bosnya ini hingga sampai berbaik hati mau membelikannya gaun mahal. Detik kemudian dia memicingkan kedua bola mata. “Apa sepulang dari Bali saya ada tugas riset luar kota, Pak?”
“Hem? Nggak ada.”
“Ohh. Apa sepulang dari Bali saya harus cari artis pengganti? Ada artis yang mengundurkan diri?”
Arjuna mengernyit. Dia tampak berpikir sebentar. Kemudian menggeleng pelan. “Nggak ada, malah sudah ada tambahan aktor, Nicholas Saputra.”
“Wahhh!” Rayya mengerjap-ngerjap. Senang sekali dia dipercaya project film yang isinya deretan artis papan atas. Selain akan lebih mudah untuk meraih rating, juga tentu saja bonus besar sudah di depan mata. Selain itu—diam-diam Rayya menaruh hati pada Nicholas Saputra. Bahkan Rayya sudah menobatkan dirinya sendiri sebagai fans berat Nicholas sejak aktor tampan itu membintangi mega film AADC.
“Kenapa Mbak Rayya? Wah-nya itu kok kelihatan bermaksa sekali?” Arjuna memindai curiga.
“Tentu saja Pak Juna! Saya ngefans banget loh sama Nicholas Saputra! Baru kali ini pegang project film yang aktornya Nicholas. Rasanya tuh—seperti akan mendapat jodoh di depan mata! Bahagia banget rasanya, Pak!”
“Yaa tapi—Nicholas Saputra itu masih tentatif. Saya akan tawarkan peran itu pada Yayan Ruhian dulu.”
Sontak Rayya terhenyak. “Loh! Pak?! Ini kan film romance, drama rumah tangga, bukan film action loh Paakk. Kok malah jadi Yayan Ruhian?” Menghela napas dalam. Rayya sebenarnya sudah nyaris kebal dengan kerandoman cara berpikir si bos. Tapi kali ini, randomnya sudah keterlaluan, pikirnya.
Arjuna membentangkan kedua tangan lebar-lebar. “Yaa terserah saya dong! Kan saya CEO nya.” Lalu ngeloyor pergi begitu saja. Beberapa langkah, dia membalik badan, menunjuk wajah Rayya dengan seringai khas-nya yang menyebalkan. “Pilih gaun yang paling bagus, yang paling mahal, dan tentu saja yang paling cocok untukmu. Karena saya—tidak mau repot-repot menolongmu lagi, karena jatuh tersandung gaun sendiri yang kebesaran.”
Arjuna kembali membalik badan. Pergi entah kemana. Menghilang di antara gaun-gaun mewah yang dipajang tinggi.
Tinggallah Rayya sendiri, melongo. Dan detik kemudian—dia tersadar. Ohh—jadi … waktu itu yang menolongku saat jatuh di depan orang banyak adalah—Pak Juna?! Astaga! Rayya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu sekali rasanya. Dia pikir yang menolongnya waktu itu adalah MC atau sesama staff ASP. Karena dia tidak melihat ada seorang Dipta Arjuna di sana. Ternyata ….
Seorang pelayan toko mendekati Rayya. “Permisi Mbak, saya diminta mas yang di sana untuk menemani memilih gaun.”
“Ohh—iya. Oke.” Rayya mengenyahkan isi pikirannya tentang tragedi gala dinner tahun lalu. Dia akan berfokus pada gala dinner tahun ini, dan tidak boleh gagal lagi.
Jiwa manusiawi seorang wanita muncul dengan sendirinya ketika Rayya mulai memilih beberapa gaun. “Aduhhh semuanya cantik-cantik! Bagus-bagus! Aku bingung mau milih yang mana Mbak?!” Rayya mencubit gemas lengan pelayan wanita di sampingnya.
Pelayan itu terkekeh. “Mbak ini cantik sekali loh! Menurutku pakai gaun yang manapun yang sudah Mbak pilih itu, pasti cocok. Tapi gaun warna gold itu, sangat cocok di kulit Mbak yang putih mulus. Saya serius, Mbak. Kalau memang boleh memberi saran.”
Rayya menunduk. Memperhatikan satu gaun yang tergantung di depannya, pada sebuah standing hanger panjang. Selain gaun gold itu, masih ada beberapa gaun lainnya. Dengan model dan warna berbeda-beda.
Tangan Rayya menyentuh gaun gold bersemu broken white dengan model airy dress. “Gaun memang sangat cantik, tapi … apakah aku cocok memakai ini?” Rayya tampak bimbang. Seumur hidupnya dia hanya pernah memakai gaun midi dress dengan potongan begitu sederhana, juga dengan warna-warna pastel.
“Bentuk badan Mbak saya perhatikan ramping dan lebih berisi pada bagian tertentu. Model airy dress tentu sangat cocok dengan bentuk tubuh seperti ini. Pasti akan terlihat—seksi.” Pelayan itu tersenyum penuh arti. Yang dia katakan bukanlah sekadar trik marketing. Tapi jujur apa adanya. Bentuk tubuh Rayya memang cukup indah dan menarik sebagai wanita, hanya saja selama ini Rayya tidak menyadarinya. Atau bahkan—tidak sempat menyadarinya, karena terlalu sibuk bergelut dengan pekerjaan.
“Boleh saya coba?” Rayya berusaha menepis keraguan itu.
“Tentu! Mari saya bantu.” Pelayan mengambil dress gold putih yang masih tergantung rapi. Lalu dia menunjukkan ruang ganti pada Rayya. Tidak hanya itu, dia juga langsung turun tangan membantu Rayya memakai dress itu.
Pelayan tidak hanya membantu memakaikan dress, tapi dia juga sedikit merapikan rambut Rayya. Setelahnya, dia justru tampak tertegun dengan senyum yang tulus. “Ya ampun, tadinya saya kira Mbak akan cantik memakai gaun ini. Tapi ternyata … cantik banget!”
Namun Rayya malah terlihat malu-malu ketika memandangi pantulan dirinya pada cermin besar. “Mbak … tapi ini … badanku loh, aduh—bajunya jiplak badan banget yah?”
Pelayan tersenyum sambil menggeleng pelan. “Model airy dress memang pas badan, Mbak. Justru itulah keunggulannya untuk wanita dengan bentuk tubuh sempurna seperti Mbak ini. Terlihat begitu ramping tapi seksi.”
Detik kemudian Rayya menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. “Aduh! Kelihatan seksi ya?” Rayya memperhatikan lebih cermat bentuk gaun itu pada bagian d**a. Begitu rendah karena berbentuk V yang terlalu mencuat ke bawah. Sehingga sedikit belahan dadanya yang padat tampak menyembul di sana.
“Mari, Mbak. Kita tanyakan langsung pada pacar Mbak, dia pasti akan setuju dengan pendapat saya. Anda sangat cantik dan cocok dengan gaun ini.”
“Hah? Pacar?”
Pelayan itu telah berjalan keluar dari ruang ganti. Rayya mengikuti dengan kedua tangan mengangkat gaun pada sisi kanan dan kiri. Saat dia baru saja keluar dari ruang ganti, ternyata ada Arjuna di sana. Berdiri tepat di luar ruang ganti. Menatap terdiam ke arah Rayya. Sorot mata pria itu memindai Rayya dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Cantik,” desisnya pelan sekali. Bahkan Rayya tidak mendengarnya.
“Bagaimana, Mas? Mbaknya cantik kan memakai gaun ini?” Pelayan berdiri di antara mereka. Tersenyum dan terlihat puas dengan penampilan Rayya. Dia bahkan tidak perlu repot-repot menyuguhkan beberapa gaun untuk dicoba. Sekali saja mencoba satu gaun, langsung terlihat cocok dan bagaikan gaun itu telah menemukan jodoh pemiliknya.
“Yahh … lumayan,” jawab Arjuna singkat. Lalu dia beralih pada pelayan itu. “Saya ambil gaun yang ini. Nggak perlu dilepas lagi, langsung pakai saja.” Lalu mengulurkan sebuah black card.
Pelayan menerima kartu itu seraya mengangguk sekali. Dengan cekatan dia mengurus pembayaran. Lalu keduanya keluar dari butik itu.
Saat akan menaiki mobil, Rayya tampak kesulitan karena gaun itu cukup panjang hingga menyapu lantai. Arjuna yang sudah naik ke mobil, langsung turun lagi lalu menghampiri Rayya di pintu sisi satunya.
“Ck ah, kamu nih, makanya biasakan pakai gaun panjang begini!” Arjuna sedikit membungkuk, memegangi gaun panjang itu pada bagian bawahnya.
Meskipun Rayya kesal dengan ocehan Arjuna, tapi dia tetap mengucapkan terima kasih lalu masuk ke mobil.
“Lalu kita akan kemana sekarang, Pak?”
“Salon.”