BAB 17. Hukuman

1293 Kata
Sabrina yang sejak tadi masih duduk di depan meja rias, menghadap cermin besar. Mencoba beberapa warna lipstik pada bibirnya. Seketika tertarik dengan kesibukan Rayya yang tiba-tiba. Sejak tadi Rayya anteng duduk di atas ranjang, dengan laptop menyala di pangkuannya. Lalu tiba-tiba gadis itu mematikan layar laptop dan menyimpannya, turun dari ranjang, memakai cardigan rajut over size, lalu meraih tas selempang putih. “Mau kemana, Ray?” Sabrina menoleh ke belakang, keningnya mengernyit. “Umm mau cari udara segar dan—mungkin secangkir kopi. Kepalaku pusing dari tadi mikirin kerjaan.” Rayya melirik jam besar di dinding. Sepuluh menit menuju pukul empat sore. Sabrina terkekeh kecil. “Lagian kamu sih, kita kan lagi liburan, ngapain bawa laptop segala. Sekali-sekali santai sedikit dong, Ray. Ya sudah, kamu memang sepertinya sangat butuh udara segar, mukamu kelihatan sumpek banget tuh!” Melambaikan tangan beberapa kali seolah mengusir Rayya dari kamar. Rayya mengangguk dan tersenyum. “Oke, aku pergi dulu ya.” “Eh iya Ray, nanti kabarin kamu pergi kemana ya, juga kabarin kalau sudah mau balik ke kamar! Umm—takutnya aku lagi di kamar Mbak Jelita, mau minjem make up dia, pasti bagus-bagus deh!” Sabrina terkekeh kecil. “Namanya juga make up artis ya kaann, pasti deh perabotannya melimpah. Nanti nih ya, aku rencananya mau pinjam … bla bla bla ….” Sabrina menyebut deretan macam-macam make up yang sebagian besar belum pernah dipakai oleh Rayya. Rayya kembali mengangguk. “Ohh, iya oke.” Rayya keluar kamar dan kali ini melirik jam di pergelangan tangan. Lima menit sebelum pukul empat sore. Segera dia berjalan cepat menuju lift. Rayya hapal betul, bosnya ini paling tidak suka orang yang datang terlambat, meskipun itu hanya satu menit. Pernah ada satu karyawannya yang datang terlambat pada acara meeting internal, alhasil kena hukum berdiri di luar ruang rapat dengan sebelah kaki diangkat dan memegang kedua telinga. “Hai, Mbak Rayya! Mau turun?” Seseorang memanggil. Rayya rem mendadak. Langkahnya otomatis berhenti dan dia menoleh. Aishh! Mas Abram? Apa kamarnya di lantai ini juga? Aduhhh aku lagi buru-buru nih! Raut wajah Rayya tampak tak sedap dipandang mata, senyumannya hambar, dipaksakan. “Iya Mas, aku mau ke lobby, sudah dulu ya Mas.” “Eh, memang Mbak Rayya kamarnya di lantai ini juga ya?” Lalu terkekeh geli. “Ya ampun! Ternyata kita satu lantai?! Nggak nyangka loh!” “Eh, iya Mas. Aku harus ke—” “Saya dengar di hotel ini ada ruangan nge-gym ya, Mbak? Di lantai berapa itu? Tau nggak Mbak?” “Ohh saya kurang tau, Mas. Tapi mungkin—di sana!” Rayya terpaksa menunjuk asal saja. Ke ujung lorong lantai ini. Abram menoleh, menatap dengan mengernyit ke ujung lorong. Kesempatan itu dipakai Rayya untuk segera kabur dari sana. Dia berjalan cepat menuju lift, tidak mau menoleh lagi meskipun terdengar suara Abram memanggilnya. Satu menit menuju pukul empat sore. Rayya menggosok-gosok telapak tangan ketika lift bergerak turun. Baginya pergerakan lift ini sangat lambat. Apalagi dia turun dari lantai delapan. Dan lalu lift masih berhenti di beberapa lantai. Tepat ketika pintu lift terbuka di lobby, jarum panjang nyaris mencapai angka dua belas. Rayya hampir melompat keluar dari lift. Lalu dia mencoba berlari untuk bisa mengejar waktu. “Ahh!” Rayya nyaris terhuyung ketika tanpa sengaja tubuh rampingnya menabrak seorang bell boy bertubuh tinggi. Tentu saja dia kalah kuat. “Maaf, Mbak. Mbak nggak apa-apa?” Rayya tidak menjawab sama sekali. Dia memilih langsung melanjutkan langkah saja, harus cepat! Tap tap tap … tapi ahh! Langkah Rayya berhenti mendadak, ketika dilihatnya di sana. Punggung tegap seorang pria yang berdiri membelakanginya. Dengan jarak sejauh inipun Rayya yakin, itu adalah bosnya, Pak Arjuna. Dia—terlambat! Langkah Rayya terpaksa menghampiri pria yang masih berdiri menjulang membelakanginya. “Permisi, Pak.” Arjuna membalik badan. Senyumnya menyeringai, telunjuk kanan langsung menunjuk ke arah wajah Rayya. “Selamat Mbak Rayya, karena Anda terlambat, maka Anda layak dapat hukuman.” Arjuna mengangkat kedua alisnya. Senyumnya masih menawan, dia sadar betul akan ketampananannya. “Apa? Hukuman?” “Ayo ikut!” “Tapi Pak—” Tapi Arjuna sudah melangkah lebar-lebar, keluar lobby hotel. Tidak ada celah untuk Rayya menyela atau protes. Terpaksa, dia mengikuti langkah Arjuna, daripada nanti malah semakin salah. Entah, hukuman apa yang akan dia terima. “Cepat masuk!” perintah Arjuna lagi ketika mereka sudah sampai di dekat sedang hitam mewah, salah satu mobil milik Arjuna. Entah sopir perusahaan yang mana yang membawanya lebih dulu ke Bali. Itu semua pasti sudah diatur rapi oleh Arjuna. “Ta—tapi mau kemana, Pak?” Raut kebingungan Rayya tidak menggugah Arjuna untuk sedikit saja memberi penjelasan. Pria tinggi dengan aura sangat dominan itu sudah membuka pintu mobil. Terpaksa lagi, Rayya ikut membuka pintu penumpang depan lalu masuk dengan cepat. Arjuna memakai kacamata hitam yang jujur—itu selalu berhasil membuat kadar ketampanannya semakin meningkat. Rayya seringkali terpaku menatap wajah Arjuna yang penuh pesona. Tapi begitu dia ingat dengan betapa arogantnya sifat sang bos, Rayya langsung melengos membuang muka. “Pak, sebenarnya kita mau kemana?” “Mau ke beberapa tempat.” Nada suara Arjuna santai dan datar. Tanpa menoleh sedikitpun pada Rayya di sampingnya. “Ohh oke … beberapa tempat, ya? Jadi—kemana saja itu Pak?” “Butik, salon, toko sepatu, toko tas, toko accesoris, toko parfum, toko perhiasan boleh juga, toko helm—umm kalau itu memang saya sedang cari helm fullface—Ruby Castel Shibuya.” Arjuna tersenyum saat mengucapkan merk helm favoritnya. Rayya sibuk memutar otak. Apa sih maksudnya Pak Arjuna ini? Apa ini bagian dari riset film? Waaahh jadi hukumanku disuruh kerja di waktu liburan, begitu? Cih! Dasar bos nggak mau rugi! Rayya tersenyum miring, setelah pikirnya, berhasil menyambungkan benang merah tentang alasan kenapa dia dipanggil sore ini, di saat karyawan lain sedang bersantai di kamar hotel mereka masing-masing. Dia malas bertanya lagi. Pikirnya, toh ujung-ujungnya dia tetap harus menurut pada setiap perintah pria arogant ini. Akhirnya Rayya diam saja sepanjang jalan. Hingga mobil berhenti tepat di depan sebuah butik besar tiga lantai. Rayya menundukkan wajahnya, berusaha melihat plang besar di atas. “Sebastian Gunawan. Waaahh ini butik punya Sebastian Gunawan? Desainer terkenal itu, kan?” Kedua bola mata indah Rayya membulat sempurna. Bibirnya masih setengah menganga. “Kita mau pakai wardrobe dari butik ini, Pak? Ck ck ….” Rayya geleng-geleng kepala. Kagum. Arjuna hanya tersenyum, tipis saja. Dia takut kalau tersenyum lebar nanti ketampanannya bisa bikin Rayya semaput. “Ayo turun!” “Iya Pak.” Mereka berdua masuk ke butik, seorang pelayan toko langsung menyambut dengan ramah. “Selamat datang di butik Sebastian Gunawan. Saya Erika, siap membantu Mas dan Mbaknya.” Rayya tersenyum seraya mengangguk sekali. “Terima kasih.” Tapi sorot matanya liar memindai seisi toko. Sepanjang mata memandang, terlihat etalase kaca tinggi-tinggi yang memajang bermacam gaun pesta. “Kami akan melihat-lihat, nanti kalau ada yang cocok akan saya panggil Mbak Erika.” Arjuna ingin Rayya merasa nyaman, “Baik.” Pelayan tadi mengangguk ramah lalu beranjak dari sana. “Nah, Mbak Rayya, silakan lihat-lihat. Semoga ada yang cocok.” Arjuna melirik jam di pergelangan tangan. “Masih banyak waktu, santai saja, nggak perlu terburu-buru.” “Ohh.” Rayya mengangguk, agak ragu. “Tapi Pak, saya akan cek harganya dulu ya. Kita sudah banyak keluar untuk honor artis. Jadi sebaiknya, untuk wardrobe bisa lebih ditekan biayanya, Pak.” Rayya menatap serius. Dia memang selalu penuh perhitungan dalm hal anggaran dana. Itu juga yang membuat Arjuna sangat mempercayainya. “Jangan khawatir, kali ini pakai uang pribadi saya.” “Apa? Wahh begitu ya.” Rayya kembali mengangguk. “Oke, siap Pak. Tapi, sekarang kita akan cari gaun untuk Acha Septriasa atau Laura Basuki ya, Pak?” Arjuna dengan mata elangnya yang dalam dan mempesona, menatap Rayya. “Untuk kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN