“Ohh ….” Rayya terdiam. Dia sibuk berpikir. Apakah ke salon artinya dia akan didandani di sana? Dan itu juga untuk acara gala dinner? Rayya terus berpikir, mencari jawaban atas pertanyaan kenapa bosnya ini mau repot-repot berurusan dengan penampilannya untuk acara nanti malam?
“Sampai.”
Mobil berhenti di depan sebuah salon dua lantai, dengan bangunan gedung yang cukup luas, bergaya modern dan terkesan mahal.
“Pak Juna, apa kita ke salon ini untuk—saya juga?” Akhirnya Rayya tidak sanggup lagi menahan diri. Dia begitu penasaran.
Arjuna menoleh. “Tentu saja. Masa’ iya untuk saya. Kalau saya nggak perlu dipoles, karena sudah terlalu tampan. Ayo turun!” Keluar dari mobil dan langsung berjalan masuk ke salon. Dia lupa kalau Rayya sedang bersusah payah berjalan di belakangnya, sambil memegangi gaunnya di kedua sisi.
“Selamat sore Tuan dan Nona. Kalau saya boleh menebak, Nona ini akan pergi ke pesta?” Seorang wanita cantik berpenampilan anggun mempesona, menyambut kedatangan keduanya. Dia memindai gaun yang dipakai Rayya.
Arjuna mengangguk. “Tepatnya acara gala dinner di sebuah hotel bintang empat. Yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan besar. Jadi acaranya juga spektakuler. Tolong rias wanita ini karena dia salah satu yang akan memberi sambutan di acara penting itu.”
“Huft!” Rayya menghela napas dalam. Dia sudah tidak terlalu peduli dengan kesombongan Arjuna. Tapi jauh lebih tertarik dengan sikap Arjuna yang begitu perhatian padanya. Tadi dia sudah dibelikan gaun mahal, lalu sekarang wajahnya akan dirias di sebuah salon yang juga—pastinya mahal.
“Baiklah Tuan, saya mengerti. Saya akan memilih anak buah saya yang paling berpengalaman untuk melayani Nona.” Dengan lembut wanita itu tersenyum lalu mengangguk pada Rayya. Lalu dia memilih tiga orang karyawan salon untuk menangani Rayya. Di bawah arahan dirinya sendiri. Rupanya wanita cantik nan anggun itu adalah manager salon.
“Tuan silakan menunggu di sofa depan. Silakan menikmati kopi hangat dan juga camilan sehat,” katanya pada Arjuna.
Hampir dua jam Rayya duduk di kursi yang nyaman, dilayani langsung oleh tiga orang. Satu orang merias wajahnya, satu orang menata rambutnya, lalu satu orang lagi berkutat dengan jari-jari tangan dan kakinya. Rayya bak seorang ratu yang sedang bersiap menghadiri sebuah pesta di istana.
Dia sampai terkantuk-kantuk hingga tiba-tiba tersentak, karena bahunya disentuh oleh seseorang.
“Nona, maaf sudah selesai,” ucap manager salon sambil menepuk lembut bahu Rayya.
“Oh iya, maaf aku ketiduran.” Rayya mengerjap-ngerjap, sampai dia terpaku. Menatap pantulan pada cermin di depannya. “Loh, itu siapa?”
Manager salon tersenyum. “Tenti saja itu Nona. Cantik, kan? Sangat mempesona! Saya yakin, Nona akan menjadi wanita tercantik malam ini.” Ucapnya bukan sekadar menyenangkan hati customer salon.
Tapi memang benar, Rayya yang sekarang, setelah dirias wajahnya dan juga ditata rambutnya, begitu terlihat berbeda. Sangat cantik mempesona.
Rayya menyentuh ujung-ujung rambutnya perlahan. Tadi dia berambut hitam panjang sepunggung bawah, yang selalu terikat satu di belakang. Tapi sekarang … rambutnya sungguh terlihat berbeda. Dengan potongan model wavy lob di bawah bahu, lalu juga diberi warna honey blonde.
Ternyata, digerai seperti itu, rambutnya terlihat sangat menawan. Mengkilap dan lembut sekali. Apalagi, warnanya sangat cocok dengan warna gaun yang dikenakannya.
“Wahh ….” Hanya itu yang keluar dari mulut Rayya. Lalu dia menoleh dan tersenyum tulus pada manager salon, yang sejak tadi selalu mendampinginya. “Terima kasih, ini luar biasa.”
Dijawab dengan anggukan dan senyuman lembut. “Bersiaplah menjadi pusat perhatian malam ini, Nona.”
Saat Rayya berjalan perlahan menghampiri Arjuna di sofa tunggu, dia ragu. Takut kalau-kalau penampilannya ini akan terlihat berlebihan di mata Arjuna. Atau bosnya itu malah tidak suka, karena sangat berbeda dengan penampilannya sebelumnya.
Arjuna mendengar derap langkah pelan mendekatinya. Dia mendongak. Beralih dari layar handphone. Dan seketika kedua bola matanya membulat sempurna. Tidak berkedip untuk beberapa detik.
Dia cantik sekali. Seperti bidadari. Gadis secantik ini bisa-bisanya disakiti oleh lelaki macam Yudhistira.
“Pak Juna?”
“Hem? Ya?” Arjuna berkedip dan terlihat agak gugup.
“Bagaimana penampilanku, Pak? Apa riasanku berlebihan? Rambutku ini umm—apa cocok untuk acara nanti malam?” Rayya menunggu jawaban Arjuna dengan cemas.
Tanpa menjawab apa-apa, perlahan Arjuna mengangkat kedua jempol tangannya. Lalu dia melirik jam di pergelangan tangan. “Sebentar lagi acara gala dinner akan dimulai. Ayo kita pergi sekarang! Kamu belum punya sepatu dan tas, kan?”
“Ummhh i—iya tapi Pak—”
Arjuna tidak ada waktu mendengar protes atau apapun itu dari Rayya. Dia segera membayar lalu melangkah lebar-lebar keluar salon. Lagi-lagi Rayya tertinggal di belakang, berusaha mengejar dengan susah payah.
Perjalanan kembali ke hotel, Arjuna menyetir dengan kecepatan agak kencang. Sampai-sampai Rayya berpegangan erat dan sesekali mengomel. Ternyata Arjuna mengejar waktu dan masih mampir ke beberapa toko.
Toko tas, toko sepatu, toko parfum, bahkan benar-benar mampir ke toko perhiasan yang menjual emas dan berlian.
Sesampainya di lobby hotel, sudah pukul tujuh lewat dua puluh menit. Arjuna yang paling tidak suka dengan kata terlambat, malam ini justru terlambat datang di acara yang dirancangnya sendiri.
Namun ternyata, dia telah memprediksi, kapan Rayya harus masuk ke ruang konferensi.
“Mbak Rayya, saya akan berganti pakaian dulu lalu masuk ke ruang konferensi. Kamu jangan ikut masuk bersamaku, tunggu sampai namamu dipanggil sebagai perwakilan sambutan dari jajaran produser. Oke, mengerti ya? Apa ada pertanyaan? Tidak ada? Bagus.”
“Loh, Pak?”
Arjuna sudah meluncur menuju kamarnya sendiri. Bersiap untuk menghadiri acara gala dinner. Dia tahu persis, saat ini masih acara penyambutan tamu undangan, dengan menyuguhkan beberapa hiburan. Disertai dengan suguhan hidangan makan malam.
Nanti, tepat pukul delapan malam, barulah acara resmi dibuka oleh MC. Jadi, masih ada waktu setengah jam untuk Arjuna bersiap. Sedangkan Rayya, dia belum berani naik ke lantai dua, ke ruang konferensi. Jadi dia masih hanya menunggu di lobby. Memilih duduk di sofa paling pojok, berharap tidak ada siapapun yang akan menyapanya di sini.
Tepat pukul delapan malam, Arjuna memasuki ruang konferensi yang cukup luas. Dekorasi ruangan terlihat begitu mewah dan elegant, sesuai dengan permintaan Arjuna yang memiliki selera cukup tinggi.
Para staff perusahaan menyambut kedatangan Arjuna, sang CEO. Arjuna duduk di antara para produser, para jajaran direksi perusahaan.
“Umm ngomong-ngomong, saya kok nggak lihat Mbak Rayya, ya?” Abram, produser eksekutif dari tim dua, celingak-celinguk, mencari Rayya. Sebab dia tahu, Rayya lah yang akan memberi sambutan nanti, mewakili seluruh produser ASP.
Membuat orang-orang di sekitarnya, para produser yang lain, ikut celingukan, mencari Rayya.
Sementara itu, di salah satu meja bundar di sisi lain, Sabrina juga masih kebingungan, sejak tadi sore Rayya belum kembali. Dia menoleh pada Yudhistira di sampingnya. “Bagaimana? Apa nomornya sudah bisa dihubungi?”
Yudhis menggeleng. “Sayangnya belum, Sab. Aduhh kemana dia ya?” Yudhis garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Sabrina menghela napas dalam lalu menghembuskannya. “Jangan-jangan … Rayya sengaja sembunyi nih! Dia nggak mau menghadiri acara gala dinner karena masih trauma dengan kebodohannya tahun lalu. Iya, kan?”