BAB 20. Menjadi Pusat Perhatian

1345 Kata
“Nanti dia akan datang. Katakan pada MC, sambutan dari produser tetap oleh Mbak Rayya.” “Baik Pak Arjuna.” Seorang produser dari tim tiga menyampaikan pesan sang bos pada kedua MC. Acara terus berlanjut dengan meriah. ASP mengundang beberapa penyanyi tanah air untuk mengisi acara sebagai hiburan. “Sab, kamu cantik banget malam ini!” bisik Yudhis di dekat telinga Sabrina. Dan dia sengaja menyentuhkan sedikit bibirnya. Tidak ada yang terlalu memperhatikan mereka meskipun di tengah keramaian. Sebab semua mata tertarik ke arah panggung. Sajian hiburan di sana lebih menarik ketimbang memperhatikan dua orang yang sedang saling menggoda di balik tampang kepura-puraan mereka. Sabrina tersenyum mendengar itu, meskipun sorot matanya tetap ke arah panggung di depan sana. Lalu melirik sekilas ke arah Yudhistira di sampingnya. “Kamu juga ganteng banget, Mas.” Sabrina menurunkan pandangannya, memindai cepat penampilan Yudhistira malam ini. Pria itu memilih menggunakan kemeja krem dengan dasi, lalu ditumpuk dengan rompi sebagai luarannya. Kemudian dipadukan dengan celana chino coklat muda, dan memakai sepatu pantofel hitam mengkilap. “Ck ah, tapi ganteng-ganteng gini kok malah dianggurin sih. Padahal tadi sore kan Rayya pergi, sampai sekarang malah. Itu kesempatan kita bisa berduaan, Sayang.” Yudhis tampak mendelik tajam pada Sabrina. Tapi saat dia sesekali kembali memandang ke depan, senyum tipisnya tetap dipajang. Dia tidak mau ada yang curiga kepadanya dan juga Sabrina. “Yaa habis gimana, Mas. Tadinya aku sudah mau mengundang kamu ke kamar. Eh malah disuruh kumpul tuh sama si Jelita, briefing untuk ngisi acara segala. Ribet deh!” Yudhis terkekeh kecil. “Memangnya kalian cewek-cewek mau isi acara apaan sih? Kan sudah banyak artis lohh, kenapa nggak duduk manis aja?” Sabrina menghela napas dalam, terlihat malas. “Nah itu dia, Mas! Kata si Jelita, ini idenya tim kreatif. Harus ada perwakilan karyawan yang mempersembahkan sesuatu gitu, untuk menghibur Pak Arjuna. Ck ah! Pokoknya ngeselin banget! Tadi aku latihan dari jam setengah lima sampai jam enam lewat loh! Makanya aku ganti baju, dandan semuanya, terburu-buru!” Kelihatan sekali raut wajah Sabrina begitu kesal, sebab dia jadi merasa kurang maksimal malam ini. Merias wajah jadi teburu-buru. Tadi juga tidak sempat memilih accesoris yang cocok, Sabrina asal sambar saja karena pukul tujuh acara sudah akan dimulai. Yudhistira tersenyum. “Tenang Sayang, acara ini biasanya sampai malam banget. Tahun sebelumnya bahkan sampai jam sebelas, kan? Nanti kita bisa kabur sebentar ke kamar.” Mengerling menggoda ke arah Sabrina. Satu tangan Yudhis menelusup di bawah meja bundar. Bertengger pada paha mulus Sabrina yang terbuka sampai atas. Sebab mini dressnya benar-benar mini. Dan pada saat duduk, tentu saja semakin tertarik ke atas. Sabrina tersenyum dalam diam, dia mengerti sekali apa maksud Yudhis. Bahkan di bawah meja, dia sengaja sedikit merenggangkan kedua pahanya, untuk menggoda Yudhistira tentu saja. Supaya semakin menginginkan dirinya. Bukan menginginkan wanita lain, terutama Rayya. Glek. Yudhistira menelan saliva dengan susah payah. Tangannya terus bergerilya membelai kedua paha Sabrina. Meskipun memakai stocking warna kulit yang tipis, tetap saja membuatnya menjadi panas dingin, saat menyentuh semakin intens, semakin ke atas, menuju ke pusat pangkal paha. Saat itulah Sabrina menurunkan satu tangan, menahan tangan Yudhis. Tepat sekali. Lalu dia sedikit mencondongkan badan. “Ssttt nanti saja di kamar, Mas. Bahaya kalau ada yang curiga,” ucapnya mengalahkan suara dentuman musik. Yudhis hanya bisa menelan saliva dengan susah payah. Dia menarik tangannya ke atas meja. Menegakkan punggung dan memundurkan kembali letak duduknya. Mencari posisi yang pas dengan agak sulit, karena sesuatu yang tegang di bawah sana tiba-tiba membuat celananya terasa begitu sempit. Sabrina melirik itu dan sedikit tersenyum penuh kemenangan. Dia senang selalu berhasil menggoda Yudhis. Pikirnya, Rayya mana bisa seperti ini, sahabatnya itu tidak pernah menggairahkan di mata lelaki. “Sambutan dari CEO Arjuna Sparkling Pictures! Kepada Bapak Arjuna yang terhormat, kami persilakan!” Gemuruh riuh tepuk tangan langsung menggema di ruang konferensi yang sudah didekor dengan begitu mewah dan elegant malam ini. Semua orang berdiri menyambut sang CEO yang telihat begitu luar biasa. Lampu-lampu menyorot mengiringi langkah Arjuna yang penuh percaya diri. Pria dengan tinggi 190cm, berbalut setelan tuxedo berwarna navy, dengan dasi berwarna senada tapi bermotif garis gold. Rambut lurusnya yang berwarna coklat gelap terlihat rapi dan agak basah mengkilap, dengan beberapa ujung rambut yang runcing jatuh di kening. Benar-benar menawan. Jangankan para wanita, para staff pria saja berdecak kagum melihatnya. Bayangkan, punya bos spek Lee Min Ho tapi usianya masih 30 tahun. Ketampanan yang sungguh tak terkalahkan. Arjuna berdiri di podium, tatapannya hangat mengedar ke seluruh penjuru ruang. Dia tersenyum. Dan dia sangat yakin, senyumannya yang begitu tampan mempesona, akan mampu membius seluruh sorot mata untuk tetap terfokus ke arahnya. Ah, sayang kamu masih di luar sana, Rayya. Kalau tidak, kamu bisa melihat betapa tampannya aku sekarang. Berdiri di sini dan pasti akan membuatmu terpesona heheheee …. Di lobby utama hotel, Rayya duduk bak bidadari kebelet pipis. Cantik, anggun, tapi gugup sampai kedua kakinya terus bergerak-gerak di balik gaun. Setiap tamu hotel yang memasuki lobby, pasti akan menoleh padanya. Tamu laki-laki akan menoleh dan mengagumi di dalam hati, bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mampukah mendekati wanita cantik itu. Sedangkan tamu wanita akan menoleh hanya sekilas, sebab merasa iri hati dan takut pasangannya akan melirik pada wanita cantik itu. Diliriknya jam di pergelangan tangan. Tepat pukul delapan, lewat lima menit. Itu berarti, Pak Arjuna saat ini sedang memberikan sambutannya, pikirnya. Maka Rayya berdiri, lalu berjalan anggun menuju lift. Dia menguatkan hatinya. Langkahnya mantap, dan anggun. Dagunya ditegakkan, pandangan lurus ke depan. Sebelah tangan memegang mini bag merk Gobelini warna putih tulang. Sedangkan sebelah tangan lagi mengangkat sedikit gaunnya yang panjang hingga menyapu lantai. Siluet tubuh indah Rayya terlihat mempesona saat berjalan karena gaunnya yang melekat pas sekali. Seorang pria yang sedang melakukan reservasi kamar tampak melangkah cepat, menghampiri lift dan lalu berdiri di sana dengan gestur tubuh sopan. “Mau naik ke ruang konferensi, Nona?” tanyanya dengan senyuman ramah. Rayya mengangguk sekali, terlihat begitu anggun. Tersenyum tipis. “Iya betul.” Pria itu langsung menekan tombol ke atas, lalu dia mempersilakan Rayya masuk. Masih berdiri di sana seakan menahan pintu, sambil tatapannya tak lepas dari pesona Rayya saat berjalan masuk ke lift tersebut. Aroma vanilla dari merk parfum mahal semerbak menyelusup ke dalam indera penciuman pria itu, membuatnya semakin mengagumi Rayya. “Terima kasih,” ucap Rayya lembut. Pintu lift tertutup. Pria itu masih mematung di sana. Mengusap d**a dan menghela napas dalam. Berharap akan bertemu lagi dengan bidadari dunia itu. Rayya turun di lantai dua. Langkahnya penuh percaya diri menuju ruang konferensi di sana. Suara dari dalam ruang konferensi terdengar hingga ke lorong lantai. Riuh tepuk tangan menggema mengiringi sang CEO yang sedang berjalan kembali ke kursinya. Deg deg deg. Dalam d**a Rayya berdetak kencang. Namun dirinya tidak sabar untuk masuk ke ruangan besar itu. Dia siap menjadi pusat perhatian orang-orang satu ruangan. Tadi, saat di lobby hotel, dia diperhatikan oleh seorang pria yang menghampirinya. Ternyata itu tidak semenakutkan yang dipikirkan, dia hanya harus bersikap tenang, dan penuh percaya diri. Rayya telah berdiri di depan pintu ruang konferensi. Menunggu MC akan memanggil namanya. Tenang. Tenang, Rayya. Aku pasti bisa melalui ini dengan baik. Aku cantik. Aku akan baik-baik saja. Aku—tidak akan jatuh lagi di sana. Aku—tidak akan mempermalukan diri sendiri. Dan—di sana ada Pak Arjuna yang mendukungku. “Acara selanjutnya adalah, sambutan dari jajaran produser Arjuna Sparkling Pictures, yang akan diwakilkan oleh Ibu Rayya Bhumi yang terhormat. Kepadanya kami persilakan untuk maju ke panggung.” Suara MC menggema di dalam ruang konferensi. Semua mata tertuju ke arah jajaran meja di bagian depan. Itu adalah tempat sang CEO duduk, bersama dengan para produser, bersama dengan jajaran direksi. Namun Arjuna berdiri, membalik badan. Menghadap ke arah pintu masuk utama, lalu kedua tangannya terangkat. Menunjuk ke arah pintu. Tanpa bicara, hanya senyuman terukir. MC langsung menyadari itu. “Baiklah, mari kita sambut kedatangan Ibu Rayya Bhumiii!” Satu tangannya juga diarahkan ke pintu masuk utama. Semua mata memandang hanya ke satu arah, yaitu pintu utama besar yang kemudian dibukakan oleh seseorang dari dalam. Lampu-lampu menyorot ke arah pintu. Ketika kaki jenjang berbalut gaun mewah, mulai melangkah memasuki ruangan ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN