“Wahhh!” “Benarkah itu—Mbak Rayya?!” “Cantik sekali!” “Astaga Bu Rayya! Apa aku nggak salah lihat nih?” Seseorang mengucek matanya sampai dia tidak sadar bulu matanya lepas sebelah. Beberapa staff pria tanpa sadar berdiri perlahan. Tangannya ikut bertepuk tangan mengiringi langkah Rayya, tapi sorot matanya lupa berkedip. Bahkan mulut mereka sampai menganga sedikit karena begitu takjub dengan kecantikan seorang Rayya Bhumi yang bagai disulap dalam sekejap. Sebab tadi saat makan siang, Rayya masih menjadi Rayya yang biasanya, culun dan sederhana. Tapi sekarang—wanita itu tampak glamour, elegant, dan cantik mempesona. Yudhistira ikut berdiri dan sorot matanya tidak lepas sedikitpun dari Rayya. Dia tidak menyangka sama sekali ternyata kekasihnya cantik luar biasa. “Wahh pacarku cantik sek

