Enam bulan lalu — Stresa Belle terbangun tanpa mimpi. Dan ia justru merasa aneh. Biasanya, jika tubuhnya benar-benar lelah, ia akan tidur begitu dalam, bahkan lebih seperti orang pingsan. Jika pikirannya bekerja terlalu keras, mimpi akan datang—terpotong, berisik, dan melelahkan—sebagai penanda jika dalam lelap pun otaknya tak berhenti bekerja. Namun pagi ini, ia membuka mata begitu saja. Jantungnya berdegup terlalu cepat untuk seseorang yang belum bergerak. Tenggorokannya kering. Telapak tangannya dingin. Ia menatap langit-langit beton rubanah markas Famiglia, menghitung tekstur yang tak rata. Satu. Dua. Tiga. Empat. Ia berhenti di angka lima puluh satu, lalu menyerah. Jam di dinding menunjukkan pukul 07:05. Belle duduk perlahan. Ia tak pening, dunia tidak berputar, namun jari-jarin

