ALL IS LOST

1964 Kata

Milan menyambut Gyan dengan cuaca yang biasa saja. Tidak ada hujan dramatis. Tidak ada langit kelabu yang mencoba meledeknya. Semua normal, bahkan cenderung indah. Namun justru itu yang membuat perjalanannya terasa lebih berat, ia tak bisa menikmati keindahan jika tak ada Belle di sisinya. Gyan turun dari mobil di depan bangunan yang sudah ia hafal siluetnya; salah satu properti utama De Santoro di kota itu. Bukan karena ia pernah berkunjung, tapi karena ia mengingat setiap detailnya dari data yang Bruno berikan. Tidak ada papan nama mencolok, tak ada tim keamanan laksana di barak militer. Bruno ikut turun. Ia tidak bertanya lagi “kau yakin?” karena pertanyaan itu sudah basi sejak berbulan-bulan lalu “Nama,” ujar salah satu penjaga. “Alexander Elroy,” jawab Gyan datar. Ia tak memakai n

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN