“Ya, aku akan makan malam di rumah, Maman,” jawab Gyan. “Aku mendengar suara musik. Kau dalam perjalanan pulang?” timpal Edith. “Aku akan membereskan unit kumuh itu dulu.” Edith tersenyum di seberang sana. Gyan bisa membayangkannya tanpa perlu melihat. “Dia sama cerewetnya denganmu soal kerapihan dan kebersihan,” lanjut Gyan. “Aku akan sampaikan padanya kalau putraku mengeluhkan sifat kekasihnya sendiri,” balas Edith. Gyan terkekeh singkat. Lalu suaranya berubah rendah. “Aku merindukannya.” “Aku tau, mon chérie,” Jawab Edith lembut. “Pastikan saja kau pulang. Kau harus sehat untuk tetap tegar menunggu.” “Hmm. Terima kasih, Maman.” “Hati-hati.” Beberapa menit berselang sejak panggilan ditutup, Gyan tiba di tujuan. Pintu unit itu terbuka. Ia berdiri di ambang terlalu lama—sampai

