NORMAL PARIS

1851 Kata

“Bruno!” Pria itu menahan langkah menuju kamarnya. “Ya, Tuan?” “Aku harus ke butik besok,” ujar Gyan dari balik pagar lantai dua, batas lorong di depan kamarnya. “Aku akan sampaikan ke Monsieur Marlon untuk menemuimu di butik.” “Tidak. Atur ulang saja, aku masih harus memikirkan cara untuk menolak permintaan tak masuk akal orang yang mengaku-aku keluargaku itu.” Bruno mengangguk. “Selamat beristirahat, Tuan.” “Ya, kau juga.” Gyan beranjak ke kamarnya, masuk, menutup pintu. Di luar, langit tak lagi terang. Hari itu sama seperti kemarin. Tidak ada panggilan masuk dari seseorang yang begitu dinanti ke nomor pribadinya. Tak pula ada pesan yang muncul dengan nada mendesak. Tak ada kalender besar yang menuntut ruang di kepalanya. Gyan berdiri di dekat jendela, satu tangan bertumpu di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN