Undangan itu tak datang lewat notifikasi. Bukan pula melalui panggilan telpon. De Santoro mengirimkannya melalui jalur klasik dan resmi. Amplop krem dengan emboss tipis diserahkan langsung ke meja resepsionis Elroy Holdings pada pukul sepuluh lewat tujuh pagi. Tanpa pengirim tercatat di sebuah kolom. Tanpa catatan tambahan selain satu kalimat singkat: Pour Monsieur Alexander Elroy. Staf resepsionis sempat ragu, berhubung rasanya kartu itu datang dari masa lalu. Namun, ia tak punya pilihan selain menyerahkannya ke tangan bosnya yang belakangan tampak semakin cerah. “Apa ini?” tanya Gyan. “Saya tidak berani membukanya, Monsieur. Tapi, seperti undangan dari zaman Baroque,” jawab stafnya. Gyan mengerutkan kening. “Apa tour sekarang membuka itineraty ke masa lalu?” Resepsionis itu meng

