NAPAS YANG SAMA

2721 Kata

Lampu hijau kembali berganti merah ketika pelukan mereka belum juga terlepas. Gyan memeluk Belle terlalu lama untuk ukuran jalanan Paris, terlalu erat untuk sekadar reuni biasa, terlalu dalam untuk disebut ramah tamah. Ia menahannya seolah begitu pelukan terurai, Belle akan kembali menghilang seperti selama ini—menyisakan lubang aneh di dadanya. Orang-orang menoleh. Sebagian berhenti, sebagian tersenyum simpati, sebagian lewat begitu saja. Tak ada yang penting selain Belle di dalam pelukannya. Belle bergerak lebih dulu. Ia tak mendorong Gyan, tak juga mencair dalam dekapan pria itu. Ia hanya menegakkan kepala sedikit, cukup untuk bicara. “Kita ke tempatku saja,” ujar pelan. “Sebelum petugas menegur kita karena menghalangi laju orang menyeberang.” Kalimat panjang dengan sambatan khas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN