“Kita sudah hampir sampai, Tuan,” ujar Bruno. Sedan hitam mengantar mereka melaju melewati boulevard yang basah. Bayangan kota memantul di aspal, seolah menandakan adanya dua dunia yang hanya dipisahkan permukaan air. Le Bourget sudah jauh tertinggal, begitu juga lorong-lorong rumah sakit tempat François dititipkan, pun apartemen usang yang menjadi tempat tinggal Belle di kota ini. Yang tersisa kini hanyalah jarak menuju Avenue de La Muette—alamat yang sejak lama menjadi ‘rumah’, namun malam ini terasa seperti ruang tunggu dengan sofa mahal. Gyan menatap layar ponselnya sekali lagi sebelum gawai itu ia masukkan ke saku mantel. Tak ada pesan. Tak ada panggilan tak terjawab dari Belle. Ia menghela napas pelan. Menahan diri agar tak kembali menulis kalimat yang akan ia hapus sendiri. Men

