Saint-Sulpice selalu terasa lebih sunyi daripada gereja-gereja lain yang pernah Belle datangi. Bukan karena sepi pengunjung—hari itu bahkan cukup ramai—melainkan karena ruangnya seperti menyimpan kedamaian sendiri. Pilar-pilar batu nan indah berdiri kokoh. Cahaya masuk dari jendela tinggi, jatuh lembut ke lantai, ke bangku kayu tua, ke bahu orang-orang yang datang membawa doa atau sekadar rutinitas. Belle duduk di salah satu bangku tengah, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Ia tujuh belas tahun hari itu. Tak ada pesta. Tak ada ucapan selamat. Tak ada kue dengan lilin. Tak ada orangtuanya. Tak pula ada saudara satu-satunya. Hidup di house of refuge mengajarkannya bahwa ulang tahun hanyalah angka, dan angka tak pernah mengubah apa pun. Seorang suster meminta Belle ikut ke Saint-Sulpic

