Kereta melaju tepat waktu. Mereka duduk berhadapan di gerbong yang eksklusif di-booking. Hanya Gyan, Belle, dan tentu saja orang-orang mereka. Kursinya berlapis kulit, meja kecil di tengah menyajikan cangkir teh, kopi, dan dua botol air mineral; sementara jendela besar membuat pemandangan di luar terasa seperti film yang tengah diputar. Belle yang memilih kereta menuju Paris. Alasannya sederhana. Ia hanya ingin melihat musim bergerak. “Lihat, mon loup,” ujarnya, menempelkan ujung jarinya ke kaca. “Apakah sudah terlalu lama aku tak duduk dan membiarkan tempat-tempat berganti tanpa harus menyiapkan rute darurat?” “Tidak terlalu lama,” jawab Gyan. “Kamu saja yang mendramatisir.” Belle terkekeh. Gyan meneguk kopinya. Ia lalu melihat ke luar, menyapukan pandangan ke seantero gerbong, men

