Jelita menatap jendela dari lantai dua. Ia sedang membersihkan ruangan yang akan menjadi tempat tinggalnya kedepan. Entah berapa lama dan entah sampai kapan. Ibu Ajeng bulak balik mengeceknya karena khawatir. "Kamu jangan terlalu lelah. Sudah hamil besar begitu," ucapnya. "Biarkan bibik saja yang membereskan." "Tidak apa apa buk, saya hanya menyapu saja. Toh bibik sudah mengepel lantai dengan bersih. Perabot juga sudah rapi semua," Jelita tersenyum. "Tempat ini sudah nyaman untuk ditempati." Ia memperhatikan suasana sekitar. Ada ruang cukup besar baginya dengan jendela menghadap ke jalanan. Ada kursi panjang yang berada di dekatnya. Jelita juga meletakkan kursi dan meja kerjanya tak jauh dari jendela. Di sebelah kanan ada kamar tidurnya, lalu kamar mandi dan di samping

