Hujan berhenti menjelang tengah malam, tapi hawa dingin masih menggantung di udara. Rumah itu tenggelam dalam keheningan yang hampir menakutkan, hanya diselingi suara jarum jam yang berdetak pelan di ruang tamu dan sesekali deru mobil dari kejauhan. Naura masih berdiri di balkon, meski kini hujan sudah reda. Matanya sembab, wajahnya pucat. Ethan masih di sana — berdiri di sisi lain, bersandar pada tiang balkon, tangannya terlipat di d**a. Mereka tidak bicara selama beberapa menit, hanya diam, membiarkan keheningan bicara untuk mereka. “Udah agak reda,” gumam Ethan akhirnya, suaranya berat tapi tenang. Naura mengangguk kecil. “Iya.” “Masuk aja, nanti masuk angin.” Naura tidak langsung bergerak. Ia hanya menatap taman yang masih basah, kelopak bunga di bawah cahaya lampu taman berkilau

