Mereka tiba di rumah menjelang sore. Hujan kecil turun lagi, membasahi jalanan depan rumah Ethan yang lebar dan rapi. Naura keluar dari mobil dengan hati yang masih penuh campur aduk. Ia baru saja melewati hari yang melelahkan—secara fisik dan emosional. Ethan berjalan lebih dulu menuju pintu, tapi kemudian berhenti dan menoleh ke belakang. “Masuklah. Kamu kelihatan capek.” Nada suaranya datar, tapi bukan dingin. Justru terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha menahan sesuatu—entah simpati, atau perhatian yang tidak ingin diakui. Naura menunduk sedikit, melangkah masuk ke dalam rumah. Ia melepas sepatu, lalu berjalan pelan menuju ruang tengah yang luas dan modern. Semua terasa terlalu megah baginya—sofa kulit putih, rak buku tinggi, dan jendela besar yang memperlihatkan taman b

