Hujan belum berhenti malam itu. Rintiknya jatuh pelan di luar jendela, membentuk irama lambat yang berpadu dengan detak jantung Naura yang tak menentu. Kamar itu hanya diterangi lampu meja kecil, menciptakan bayangan samar di dinding yang bergerak seiring nyala lilin aromaterapi yang hampir padam. Naura duduk di lantai, bersandar di sisi tempat tidur dengan map cokelat yang tadi siang ia temukan di ruang kerja Ethan. Map itu masih tertutup, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat napas Naura tercekat. Ia tahu ia tak seharusnya membukanya, tapi rasa ingin tahu yang kini bercampur dengan ketakutan membuat tangannya bergetar setiap kali menatap amplop itu. Pikirannya tidak berhenti bekerja. Sejak membaca nama Aditya di dokumen itu, semua kepingan masa lalunya berputar ulang. Bagaimana

