Keesokan harinya, pagi di rumah Ethan terasa lebih tenang. Tidak ada jadwal mendadak, tidak ada pelayan yang tergesa. Naura bangun lebih awal, menyiapkan kopi seperti yang pernah dikatakan Nita—kopi hitam tanpa gula. Ia tidak tahu apakah Ethan akan menyukainya jika ia yang membuat, tapi setidaknya ia mencoba. Saat sedang menuang kopi ke cangkir, suara langkah berat terdengar dari tangga. Ethan muncul dengan kemeja putih dan dasi yang belum terpasang, rambutnya sedikit acak karena baru dikeringkan. Ia terlihat rapi tapi tidak terlalu formal, berbeda dari malam sebelumnya. Naura menoleh cepat. “Selamat pagi,” sapanya hati-hati. “Pagi,” jawab Ethan datar, lalu berjalan mendekat ke meja makan. “Kamu udah sarapan?” “Belum. Aku baru bikin kopi.” Naura mendorong cangkir ke arah Ethan. “Aku bi

