Langit sore mulai memerah ketika mobil hitam Ethan berhenti di depan rumah sakit tempat ibunya Naura dirawat. Suasana rumah sakit tampak ramai — suara langkah kaki tergesa, panggilan perawat lewat pengeras suara, dan aroma antiseptik yang menusuk memenuhi udara. Naura duduk di kursi penumpang, menatap ke luar jendela dengan tangan yang saling menggenggam di pangkuannya. Jantungnya berdegup cepat, bukan hanya karena canggung berada di samping Ethan, tapi juga karena cemas pada kondisi ibunya. Ethan mematikan mesin dan menoleh sekilas. “Kamu yakin nggak mau aku ikut ke dalam?” tanyanya dengan nada datar tapi terdengar lembut. Naura menelan ludah. “Aku… bisa sendiri dulu. Ibu mungkin kaget kalau tahu aku datang sama orang lain.” Ethan mengangguk pelan. “Baik. Tapi aku tetap di sini. Kalau

