Pagi berikutnya datang dengan langit kelabu yang masih menyisakan sisa hujan semalam. Embun menempel di dedaunan halaman belakang rumah, menetes perlahan saat angin bertiup pelan. Di dapur, aroma roti panggang bercampur kopi hitam menyebar lembut. Naura sudah bangun lebih dulu. Rambutnya digelung seadanya, wajahnya masih tanpa riasan, tapi ekspresinya lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan sederhana — omelet, roti, dan sedikit salad. Gerak-geriknya tampak canggung, seolah belum terbiasa mengisi dapur besar yang selama ini selalu dikelola oleh asisten rumah tangga Ethan. Suara langkah pelan di belakangnya membuatnya menoleh. Ethan berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, wajahnya masih terlihat lelah tapi segar. “Kamu bangu

