Subuh datang pelan, membawa cahaya lembut yang merambat masuk melalui celah tirai besar kamar utama. Udara pagi terasa dingin, sedikit menusuk kulit, tapi di ruangan itu, kehangatan aneh menggantung di udara. Naura membuka mata perlahan. Kepalanya terasa berat, matanya bengkak karena semalam hampir tak tidur. Pikirannya terus dipenuhi bayangan Ethan di pelabuhan—berlumur debu, tenang di tengah kekacauan, dengan tatapan yang tak bisa ia lupakan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap cermin di depan tempat tidur. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Cincin pernikahan di jarinya berkilau samar terkena sinar matahari. Ia mengusap wajah, mencoba menenangkan diri. Hatinya masih campur aduk: ada rasa takut, ada penasaran, dan entah kenapa… ada sedikit kekaguman. Naura berdiri, melangkah ke

