Sore itu, hujan turun deras. Langit kelabu, udara dingin menusuk tulang, dan suara rintik hujan yang menghantam kaca besar ruang tamu membuat suasana rumah terasa begitu sepi. Naura duduk di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya. Di pangkuannya, ada laptop yang menampilkan draft presentasi yang harus ia revisi untuk rapat besar besok pagi. Tapi fokusnya berantakan. Matanya terus saja melirik ke arah tangga—menunggu sosok yang belum juga muncul sejak siang. Ethan. Pria itu pamit pagi tadi tanpa banyak bicara. Katanya ada urusan penting di kantor pusat. Tapi sejak sore menjelang malam, tak ada kabar. Teleponnya tak aktif. Pesan yang dikirim Naura pun hanya centang satu. Dan entah kenapa, ada perasaan cemas yang tidak bisa dijelaskan. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. “Dia pasti baik-baik

