Pagi itu, suasana rumah terasa lebih hangat dari biasanya. Sinar matahari menembus tirai tipis, memantulkan warna keemasan di dinding ruang makan. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara—sesuatu yang jarang terjadi sejak Naura tinggal di rumah besar itu. Biasanya, meja makan hanya berisi keheningan dan tatapan kaku dari Ethan. Tapi pagi ini, suasananya berbeda. Naura duduk di kursinya, mengenakan piyama putih sederhana. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi wajahnya tampak lebih segar. Di depannya, Ethan sibuk menyiapkan kopi untuk dirinya sendiri. Ia sudah rapi dengan kemeja biru muda, lengan tergulung, dan jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara, tapi entah kenapa justru terasa begitu… nyaman dilihat. Naura memperhatikannya diam-diam

