Lembayung senja mulai merambat di langit Jakarta, memantulkan warna tembaga pada gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Di ruang kerjanya yang luas, Dewangga baru saja hendak merapikan berkas ketika pintu diketuk. Jatmiko berdiri di sana, tanpa senyum jenaka yang biasanya ia pamerkan. Wajahnya layu, seolah-olah seluruh energi hidupnya telah tersedot habis. "Dewa, bisa kita bicara? Makan malam ... seperti dulu?" suara Jatmiko terdengar berat. Dewangga sempat tertegun. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tatapan sahabatnya itu. Ia mengangguk pelan, lalu meraih ponselnya untuk menelepon Jandita. "Ok. Aku pamit Jandita dulu, ya," katanya. Jatmiko mengangguk, lalu membiarkan sahabat sekaligus menantunya itu menghubungi Jandita sebelum mereka berangkat. "Jan, Mas pulang telat s

