Bab 37. Identitas yang Terkuak

1386 Kata

Pagi menyapa kediaman Dewangga dengan nuansa yang jauh lebih tenang. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela ruang makan, menyinari uap dari kopi hitam pekat milik Dewangga dan teh melati hangat milik Jandita. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan; yang ada hanyalah senyum simpul yang sesekali dilemparkan pasangan suami istri itu di sela sarapan mereka. Jandita, mengenakan terusan santai dengan rambut yang masih agak lembap, sesekali tertawa kecil saat Dewangga membisikkan sesuatu yang membuatnya tersipu. Keintiman semalam masih membekas jelas di wajah mereka yang segar. Langkah kaki yang teratur dari arah tangga mengalihkan perhatian mereka. Tara turun dengan pakaian yang rapi, meski wajahnya masih sedikit pucat, sorot matanya tampak lebih hidup dibandingkan kemarin. T

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN