Uap air hangat memenuhi ruang kamar mandi, menciptakan selubung kabut yang menyamarkan pandangan, namun justru mempertajam setiap indra lainnya. Jandita terus memainkan ritmenya, jemarinya meluncur dengan lihai di atas milik Dewangga yang sudah menegang maksimal. Ia memberikan tatapan menggoda di balik helaian rambutnya yang basah kuyup, menikmati ekspresi frustrasi yang tertahan di wajah suaminya. Saat Dewangga sudah berada di ambang batas kesabarannya, napas pria itu memburu, menderu di antara suara gemericik air shower. Jandita tertawa kecil, berniat menarik tangannya untuk memberikan jeda yang menyiksa, namun Dewangga bergerak lebih cepat. Persetan dengan aturan. Dengan satu gerakan sentakan yang kuat, Dewangga menangkap kedua pergelangan tangan Jandita dan menguncinya di balik pung

