Bab 34. Janji Malam Nanti

1036 Kata

Aroma kaldu ayam yang gurih memenuhi dapur, beradu dengan uap hangat dari panci bubur yang sedang diaduk perlahan oleh Jandita. Suasana rumah yang tadinya tegang kini perlahan mencair, meninggalkan kelegaan yang menyesap di setiap sudut ruangan. Tiba-tiba, Jandita merasakan sepasang lengan kokoh melingkar posesif di pinggangnya. Sebuah kecupan hangat mendarat di bahunya yang terbuka, diikuti oleh hembusan napas berat yang terasa sangat lega. Dewangga menyandarkan dagunya di sana, membiarkan tubuh mereka menyatu dalam keheningan dapur yang tenang. "Terima kasih," bisik Dewangga rendah, suaranya serak seolah-olah baru saja melepaskan beban seberat gunung dari dadanya. Jandita menghentikan adukan buburnya, jemarinya yang masih memegang sendok kayu terhenti di udara. Ia tersenyum tipis, mer

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN