Jandita bergerak dengan cekatan, meski napasnya masih memburu akibat rasa panik yang belum surut. Sambil menunggu dokter dan suaminya tiba, ia duduk di tepi ranjang Tara. Jemarinya yang ramping gemetar saat mencelupkan handuk kecil ke dalam baskom berisi air hangat yang dibawakan Bik Ijah. Ia memerasnya pelan, lalu menyeka kening, leher, hingga lengan Tara yang terasa membara. "Ra, bertahan ya ... Mas Dewa sedang jalan," bisiknya lirih. Jandita tidak memedulikan bagaimana kasarnya Tara kemarin di kantor polisi. Saat ini, yang ia lihat hanyalah seorang wanita rapuh yang hancur berkeping-keping. Jandita menyisir rambut lepek Tara dengan jemarinya, mencoba memberikan kenyamanan di tengah erangan halus yang keluar dari bibir pucat anak sambungnya itu. Tak lama, dr. Handoko, dokter keluarga m

