Langkah kaki Tara terasa berat saat ia memasuki rumah yang biasanya megah namun kini terasa mencekik. Pikirannya masih dipenuhi oleh pengakuan Bibi Sarina yang menghancurkan dunianya. Ia butuh konfirmasi. Ia butuh menatap mata Dewangga dan bertanya langsung: *“Apa benar aku bukan anakmu, Pa?”* Ruang tengah tampak sepi, namun lampu di ruang kerja Dewangga yang sedikit terbuka membiarkan cahaya kuning temaram merembes keluar. Tara mendekat, berniat mengetuk pintu, namun langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara-suara yang tak seharusnya ia dengar. Suara napas yang memburu, decit kursi kerja yang tertekan beban, dan rintihan halus yang begitu intim. Ia membeku. Melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat, Tara melihat bayangan yang membuat dadanya sesak. Jandita, wanita yang bar

