Bab 8. Mendadak Cegil

1601 Kata
Mobil berhenti perlahan di depan rumah Jandita. Lampu halaman menyala lembut, memantulkan cahaya ke bodi mobil hitam yang dikendarai oleh Dewangga. Pria itu tidak mematikan mesin. Ia hanya menoleh sedikit ketika Jandita membuka seatbelt-nya. “Udah sampai. Aku masuk dulu.” Jandita menoleh sekilas, lalu mencoba untuk tersenyum. “Makasih, ya, Om. Udah anterin aku.” Dewangga menatap ke depan lagi, wajahnya tenang, suaranya datar seolah-olah tidak terjadi apa-apa tadi. “Iya.” Respons yang sederhana. Singkat dan tidak hangat sama sekali, tapi juga tidak dingin sepenuhnya. Seperti ucapan yang ia keluarkan karena memang merasa perlu, bukan karena basa-basi. Jandita memegang handel pintu, tapi belum turun. Ada jeda beberapa detik yang membuat suasana di kabin terasa aneh. “Dan…” Ia ragu sejenak, “makasih juga untik yang tadi.” Dewangga baru menoleh. Tatapannya singkat tapi tajam, membuat perut Jandita mengerut aneh. Seperti ada kupu-kupu yang mendadak tebang. “Kamu hampir jatuh,” katanya pelan. “Siapa pun akan melakukan hal yang sama.” Jandita mendelik kecil dalam hati. Sebenarnya, bukan soal hampir jatuh itu, tapi soal Kendra. Namun, ia mendadak fokus dengan jawaban Dewangga. ‘Siapa pun’? Ya, Om … tapi nggak semua pria narik pinggang perempuan kayak tadi juga, kan? Tapi ia tidak berani mengucapkannya. Di luar hujan rintik mulai turun, menepuk-nepuk kaca mobil. Udara mulai dingin dan sepertinya Jandita tak berkata membahas soal Kendra lagi. Jandita akhirnya membuka pintu. “Oke, aku masuk dulu, Om.” Ketika kakinya menyentuh tanah, suara Dewangga memanggilnya. Kali ini lebih rendah dan pelan. “Jandita.” Ia menoleh. “Hm?” Dewangga menatapnya dalam-dalam, cukup lama sampai Jandita merasakan kulitnya panas sendiri. “Ada apa, Om?” Gadis itu kembali bersuara. Sebab, Dewangga mendadak diam dan hanya menatapnya. “Emm … bukan apa-apa. Masuklah! Sampai ketemu besok.” Jandita mencebik. Ia masih menatap Dewangga yang sekarang malah membuang tatapannya ke depan. Seolah-olah bibirnya kelu untuk sekadar mengucapkan sesuatu. Setelah Dewangga berlalu, Jandita masuk ke rumah. Begitu ia membuka pintu, Arumi sudah menyambutnya di ruang tengah. “Selamat malam.” Jandita menyapa sakadarnya. Sadar jika hubungan mereka selama ini terlalu jauh untuk disebut ibu dan anak. Namun, malam ini Arumi mencoba mengikis jarak hubungan yang selama ini Jandita bangun. Alih-alih sok dekat, wanita anggun itu akhirnya bicara pada anak sambungnya yang akan melangsungkan lamaran besok. “Malam,” sahut Arumi pelan. Wanita itu kemudian maju selangkah, dan mencoba menahan langkah Jandita yabg hendak naik ke kamarnya. “Papamu sudah cerita sama aku. Besok Pak Dewangga akan datang melamar. Aku mau mempersiapkan semuanya, Jandita. Bagaimanapun ini adalah momen penting dalam hidupmu,” kata Arumi hati-hati. Wanita itu tak mau anak sambungnya itu tersinggung atau menganggapnya lancang karena ikut campur dalam urusannya. Jadi, ia menjelaskan hal itu, seraya meminta izin pada Jandita. Sementara Jandita yang selama ini menutup diri akhirnya mulai sedikit luluh. Ya, ia yang selama ini menghindar. Ia yang selama ini tidak berkenan menerima Arumi sebagai ibu tiri. Namun, setelah menelaah lebih jauh, ternyata wanita itu benar-benar bisa menjadi ibu sambung yang baik. Yang membebaskan Jandita, bahkan untuk sekadar membersihkan kamarnya saja, Arumi selalu meminta izin. Jadi, apa salahnya kali ini Jandita membuka diri. “Iya, Ma. Aku minta tolong, ya.” Ucapan itu lirih, diselingi senyum kecil dari Jandita yang jarang sekali Arumi lihat. Bahkan nyaris tidak pernah. Wanita itu tentu saja mengangguk, tapi tanpa sadar air matanya ikut merembes. Jandita melihatnya, walaupun Arumi buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan. Karena ini untuk pertama kalinya, ia mendengar Jandita memanggilnya Mama tanpa diminta. “Iya, kamu tenang aja, Jandita. Mama akan atur semuanya. Kamu jangan cemas, ya.” Jandita lantas mendekat. Lalu menyentuh jemari Arumi lembut. Selama ini, ia sama sekali tak pernah memberi kesempatan pada ibu sambungnya itu untuk memahami dirinya. Jandita menutup diri dan menolak segala hal yang mungkin Arumi lakukan. Namun, malam ini berbeda. Dia sadar, Arumi terlalu baik untuk diabaikan. “Terima kasih, Ma.” Kali ini, Arumi tak lagi bisa membendung air matanya. Akhirnya, ada momen di mana ia bisa merasakan penerimaan Jandita yang seutuhnya. Bukan karena menjadi istri papanya, tapi benar-benar sebagai mamanya. “Aku naik dulu, ya.” Arumi mengangguk kasar. Ia melepas sang anak sambung naik ke kamarnya setelah itu. Begitu masuk ke kamar, Jandita membuang tubuhnya ke ranjang dengan kasar. Langit-langit kamar menjadi objek tatapannya yang nanar. Lalu, membuang napasnya dengan kasar. “Banyak banget yang terjadi hari ini,” bisiknya. Lalu mengubah posisi menyamping, memeluk guling. Sepertinya, malam ini ia tak akan bisa tidur dengan nyenyak. *** Ruang tamu rumah Jandita dipenuhi keluarga kecilnya. Dekorasinya sederhana tapi hangat dengan warna pastel lembut kesukaan Jandita. Sementara bunga putih yang dirangkai rapi Arumi, dan meja kecil tempat cincin lamaran akan disematkan dan di beberapa sudut ruangan lain. Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar berhenti di halaman rumah. Mendadak Jandita jadi tegang. Ia menelan ludahnya dengan kasar, lalu membuang napas perlahan. Arumi segera bangkit. Ia dengan cekatan berdiri dan berjalan menuju ke pintu utama. Begitu pintu terbuka, Jandita langsung membeku. Dewangga melangkah masuk dengan mantap. Mata mereka bertemu … dan Jandita tertegun. Lelaki itu hari ini memakai kemeja hitam fit body yang digulung sedikit di lengan, memperlihatkan tubuhnya yang terjaga dengan olahraga. Pikiran Jandita makin melayang ketika Dewangga makin mendekat. Ia ingat jelas tinta yang tercetak di lengan kanan pria itu. Tato yang pernah membuat Jandita meremang saat ia melihat Dewangga berganti baju di kantor. Namun, justru itu yang membuatnya susah berpaling. Dewangga sempat menatap Jandita sekilas, seolah-olah memastikan perempuan itu baik-baik saja. Lalu mengangguk samar. Di belakang Dewangga, Tara masuk sambil menyilangkan tangan. Pandangannya menusuk dari ujung kepala sampai ujung kaki Jandita. Sinis. Tidak suka. Dan jelas ingin menunjukkan itu. Jatmiko yang menyalami pria itu lebih dulu. Kemudian berpelukan selayaknya sahabat seperti biasa. “Aku masih nggak nyangka, Wa. Tapi sudahlah, jangan dibahas lagi. Ayo kita segerakan acara pertunangan ini,” kata Jatmiko. Dewangga hanya mengangguk. Ia mengambil duduk dan mengikuti proses itu dengan baik. Proses lamaran berlangsung cepat. Jatmiko menyampaikan sedikit ucapan, sedangkan Arumi tampak berkaca-kaca. Ia bahagia bisa mengikuti prosesi ini dan mempersiapkannya dengan baik. Saat itu, Jandita berusaha bernapas normal ketika Dewangga menggenggam tangannya untuk memasangkan cincin. Tangan pria itu besar dan hangat. Jandita bisa merasakan detak jantungnya sendiri melonjak. Ketika ibu jari Dewangga mengusap punggung tangannya diam-diam. Begitu cincin terpasang, Arumi langsung berseru, “Foto! Foto dulu berdua!” “Ma–” “Sudah, sini!” Arumi menarik Jandita dan mendorongnya berdiri sangat dekat dengan Dewangga. Dewangga hanya menunduk sedikit, gerak tubuhnya kaku tapi tidak menolak. Wajah mereka hampir bersentuhan ketika kamera diangkat. Saat itulah Tara mendekat dari samping, pura-pura merapikan rambut Jandita sambil berbisik tajam, “Kamu pikir cuma karena mau jadi ibu tiriku aku bakal kalah, Jan? Jangan mimpi.” Jandita tersenyum kecil. Terlihat manis dari luar tapi tajam untuk lawannya. Tanpa melirik Tara, ia balas berbisik, “Tenang. Kita lihat saja nanti siapa yang kalah.” Klik. Kamera menangkap momen yang seolah-olah manis … padahal di antara mereka, api kecil baru saja dinyalakan. *** Acara sudah selesai, tamu-tamu pulang satu per satu, dan rumah mulai terasa lebih sunyi. Jandita mengikuti langkah Dewangga keluar rumah, meski laki-laki itu tidak meminta ditemani. Rasanya tidak sopan kalau dia membiarkan calon suaminya pulang tanpa mengantar. Lagi pula … ah, Jandita benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Keputusannya ini memang gila. Namun, ia sama sekali tak bisa mundur. “Om…,” panggilnya pelan ketika mereka sampai di teras. Dewangga berhenti sebentar, lalu menoleh. Namun, tidak menjawab. Hanya menunggu. “Aku antar sampai mobil, ya,” ucap Jandita dengan suara kecil. Dewangga hanya mengangguk. Ia tidak menolak. Hanya melanjutkan langkahnya pelan. Itu saja sudah cukup bagi Jandita untuk berjalan di sampingnya. Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya gesekan langkah dan sisa riuh acara yang perlahan memudar. Malam terasa dingin, lampu teras memantulkan cahaya kekuningan di profil wajah Dewangga. Jandita sempat terpaku melihatnya dari samping. Pria itu tampak lebih rapi, lebih formal dari biasanya, dan entah kenapa … lebih memikat. Mungkin karena Jandita sadar, ini beneran. Ia beneran bertunangan sama teman Papanya. Mereka berhenti tepat di samping mobil. Jandita membuka suara duluan, dengan hati-hati, “Makasih, Om.” Dewangga menoleh sedikit. Mata dinginnya memerhatikan Jandita beberapa detik sebelum ia mengangguk kecil, nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat d**a Jandita hangat. “Iya.” Hening lagi. Tidak ada yang bicara, tapi tidak terasa canggung. Justru seperti ada sesuatu yang menggantung di udara. Jandita menelan ludah, lalu kembali membuka suara. “Om … hati-hati di jalan, ya.” Dewangga hanya merespons dengan tatapan singkat dan tajam, tapi tidak dingin seperti biasanya. Ada sesuatu di sana yang tidak berhasil Jandita baca. Sesuatu yang mungkin terasa hanya di d**a Dewangga. Ketika suasana itu, tiba-tiba …. Tiin! Tiin! Suara klakson mendadak memecah keheningan. Dari dalam mobil, Tara terlihat mengetuk jendela dengan wajah kesal, jelas-jelas menekan tombol klakson dengan penuh emosi. Jandita memutar bola matanya. Astaga, anak ini…. Saat itu, Dewangga membuang napas perlahan, lalu menatap Jandita. “Aku pulang dulu,” ucap pria itu. Melihat hal itu, Jandita tiba-tiba refleks mengaitkan tangannya di lengan Dewangga. Entah karena ingin memperlihatkan pada Tara atau memang refleks. Baru kemudian, menatapnya ragu-ragu. “Hati-hati lagi, Om.” Dewangga agak terkejut, tapi gerakannya tetap tenang, seperti biasa. Jandita sempat menangkap sekilas bagaimana rahang pria itu mengeras. Entah karena Tara atau karena momen barusan terpotong. Pintu mobil tertutup. Tara kembali memencet klakson sekali lagi. Tiin!. Jelas menunjukkan rasa jengkelnya. Jandita hanya bisa tersenyum tipis, menggeleng kecil, lalu berbalik kembali ke rumah. Diam-diam, ia merasa … hatinya masih tertinggal di samping mobil barusan. Dengan pria yang bahkan tidak mengatakan apa-apa, tapi mampu membuatnya terdiam dan terpaku begitu lama. “Ya ampun, aku kenapa sih?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN