Bab 7. Sentuhan Di Pinggang

1341 Kata
“Apa? Jandita mau nikah sama Papa kamu?” Kendra terkesiap ketika mendengar Tara bercerita bahwa ia baru saja bertemu dengan Jandita. Gadis itu sudah mengatakan semua yang terjadi pagi itu pada Kendra ketika mereka makan siang bersama. “Iya, Ken.” “Nggak mungkin. Nggak-nggak. Dia itu cinta mati sama aku. Mana mungkin langsung berubah haluan ke Papamu yang … jauh lebih tua daripada aku. Itu nggak mungkin, Tara,” katanya. Kendra mengurut keningnya. Ia mendengkus beberapa kali karena masih tidak percaya dengan apa yang Tara katakan barusan. “Cinta mati? Ya, cinta mati. Tapi semalam dia udah tahu kamu sama aku. Nggak mungkin dia masih ngarepin kamu, Ken.” “Tara … kita ini salah. Aku … aku mungkin hanya menganggap kamu selingan aja. Aku akan jelasin ke Jandita soal kita hari ini. Dia pasti mengerti.” Tara melongo mendengar ucapan Kendra. Selingan? Apa Kendra pikir menyerahkan tubuhnya juga hanya iseng semata? Wanita itu menggeleng lemah, lalu menimpali ucapan Kendra dengan cepat. “Selingan? Kendra … kita udah sepakat mau menikah juga. Jangan plin-plan kamu jadi cowok, ya. Aku udah kasih semuanya dan sekarang kamu mau balik ke Jandita? Aku nggak akan biarin itu terjadi.” “Tara kita–” “Biarin Jandita nikah sama Papaku, kamu tetap sama aku. Titik.” Kendra tidak lagi berniat mendebat. Ia memang pernah berjanji akan menikahi Tara. Namun, perasaannya pada Jandita belum sepenuhnya berubah. Tara menyerahkan segalanya, bahkan tubuhnya. Sesuatu yang Jandita tak bisa berikan pada Kendra. Namun, apakah benar Jandita bisa langsung nekat menikah dengan Dewangga dan menyerahkan tubuhnya pada pria paruh baya itu dalam semalam? Ia harus memastikannya. *** Jandita berdiri di tengah butik miliknya, dikelilingi gaun-gaun yang menggantung rapi dalam cahaya lembut lampu kuning. Udara ruangan wangi mawar kering, menenangkan. Setidaknya begitu bagi orang lain. Tangannya terulur menyentuh kain satin putih yang dipasang di mannequin. Gaun couple. Desain limited edition yang dulu ia rancang sambil tersenyum seperti orang bodoh, membayangkan dirinya memakai versi perempuan dan Kendra memakai versi prianya. Dulu. Sebelum semuanya berubah menjadi tumpukan sisa rasa pahit. Jandita menghela napas, menekan perasaan yang hampir bangkit lagi. Ia sudah memutuskan untuk menikahi Dewangga. Ia sudah memilih jalannya. Ia tidak boleh terseret masa lalu yang memalukan. Tapi sebelum ia sempat memutar badan, suara yang terlalu ia kenal menyelinap masuk. “Jandita .…” Tubuh Jandita menegang seketika. Ia memejamkan mata sedetik sebelum berbalik. Kendra berdiri di pintu butik, rambutnya acak, -acakan, wajah memelas, seolah-olah dialah korban dari pengkhianatannya sendiri. “Kamu ngapain ke sini?” Suara Jandita datar. Menampilkan dirinya dalam versi paling bodo amat. “Aku cuma mau jelasin,” ucap Kendra buru-buru sambil melangkah masuk. “Tentang semalam. Tentang aku dan–” “Stop.” Jandita mengangkat tangan tanpa menatapnya. “Aku nggak mau dengar nama itu.” Kendra menelan ludah. “Jandita, please. Kamu salah paham. Aku sama Tara itu–” “Aku bilang stop.” Nada suara Jandita naik satu oktaf karena sudah terlalu muak, “Kamu selingkuh. Poinnya di situ. Penjelasan apa lagi yang mau kamu putar-putar?” “Karena itu bukan selingkuh!” seru Kendra, putus asa. “Itu cuma–” “Itu cuma kebusukanmu.” Jandita mengambil jarak, menatap Kendra dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Dan aku nggak peduli lagi.” “Jandita, dengerin aku dulu, dong.” “Keluar dari butikku.” Kendra terdiam. “Aku nggak mau pergi.” “Bagus,” balas Jandita makin ketus. “Kalau kamu nggak mau pergi, aku saja yang pergi.” Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tasnya dan melangkah cepat keluar butik. Tumit sepatunya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang tegas. Khas seorang perempuan yang sudah selesai dengan masa lalunya, tapi Kendra tetap mengejar. “Jandita! Jangan gini! Tolonglah!” teriaknya sambil menarik pergelangan tangan Jandita. Jandita tersentak mundur, menepis kasar. “Lepasin!” “Aku cuma mau bicara! Cuma itu!” Kendra mencoba meraih lagi, kali ini lebih memaksa. “Kamu nggak bisa pergi begitu saja!” “Kamu nggak ngerti bahasa manusia, ya? Lepasin aku!” Jandita membentak, tapi Kendra sudah memojokkannya ke pinggir trotoar. Saat Kendra hendak menariknya sekali lagi, sebuah bayangan besar bergerak masuk di antara mereka penuh dengan otoritas. Tangan Kendra otonatis dihentikan di udara, lalu mendongak. “Hentikan!” Suara itu langsung membuat Kendra mundur setengah langkah. Ia melihat Jandita ragu-ragu, tapi sama sekali tak bersuara. Jandita menatap sisi wajah pria itu. Rahang tegas, tatapan tajam, penampilan rapi dengan kemeja hitam yang kontras dengan kulitnya. Itu Dewangga. Duda dingin yang kini berdiri di hadapannya … dan bersikap seolah-olah Jandita sudah resmi menjadi miliknya. “Om Dewa.” “Pergilah! Jangan bicara lagi sama calon istriku,” ucap Dewangga sambil menatap Kendra tanpa berkedip. Wajah Kendra pucat seketika, sedangkan Jandita terpaku di belakang tubuh tegap Dewangga. Ucapan pria itu benar-benar membuat suasana mendadak jadi seperti arena perang. “Om, aku–” “Tanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan, Kendra. Kamu pikir selama ini aku tidak tahu kalau kamu sering mengajak Tara ke apartemenmu?” Kendra menunduk dalam. Ia sudah habis sekarang. Mau beralasan apa lagi? Dewangga menoleh sekilas ke arah Jandita yang masih diam, lalu bicara pada gadis itu dengan nada yang sama dinginnya. “Kita pergi!” Tanpa permisi, Dewangga menggenggam pergelangan tangan Jandita dan membawanya menyeberang jalan. Tepat di mana mobilnya terparkir sebelum tadi ia turun untuk menghadang Kendra. Jandita manut–manut saja. Ia bahkan merasa jika ini adalah perlindungan paling nyaman yang pernah ia rasakan. Dewangga membukakan pintu mobil untuk Jandita, lalu berputar dan masuk ke belakang kemudi. Ia membawa kendaraan itu menjauh dari lokasi di mana butik Jandita berada. Mobil melaju mulus meninggalkan Kendra yang masih berdiri kebingungan di trotoar. Di dalam kabin, hening terasa pekat. Hanya suara AC yang samar mengisi ruang. Jandita menatap jendela, mencoba meredakan degup jantungnya. Lalu, dengan suara pelan ia mencoba membuka percakapan, “Om … makasih, ya. Udah nolong aku tadi.” Dewangga tidak langsung menoleh. Ia hanya mengangguk kecil. Gerakannya singkat tapi jelas. Kemudian hening lagi. Tak lama kemudian, Jandita menoleh ke arah Dewangga sekilas, lalu menunduk pelan,. “Om … turunin aku di sini aja. Aku bisa naik taksi–” “Nggak.” Jawab Dewangga cepat. Dingin dan menolak opsi lain. Jandita tentu saja terkejut. Ia mengerjapkan mata sejenak, lali mulai protes, “Loh, tapi–” “Aku mau beli cincin.” Nada suara Dewangga terdengar stabil, tegas, tanpa celah bantahan, ketika menyahut ucapan Jandita. “Untuk lamaran besok. Aku tidak tahu ukuran jarimu. Jadi kamu ikut saja.” Jandita terdiam mendengar ucapan Dewangga. Wajahnya panas tiba-tiba, entah karena malu atau karena ia baru sadar, pria di ssbelahnya benar-benar serius dengan pernikahan ini. *** Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan toko perhiasan mewah. Jandita turun dengan hati yang berdebar aneh. Ia bahkan belum sempat membaca nama tokonya ketika Dewangga berkata, “Pilih yang kamu suka.” Belum sempat ia bertanya apa pun, sebuah teriakan pecah dari arah dalam toko. “Tolong minggir!” Seorang pria berlari keluar sambil membawa kotak. Ia menabrak Jandita yang tidak sempat menyingkir dari jalan. “Ah!” Tubuh gadis itu terhuyung ke belakang, tapi sebelum benar-benar jatuh, tangan Dewangga menangkap pinggangnya dengan cepat. Tarikan itu kuat dan tegas, membuat tubuh Jandita merapat pada dadanya dengan cepat. Napas mereka hampir bertemu. Tatapan keduanya terkunci beberapa saat. Detik itu terasa melambat karena keduanya hanya mendengar detak jantung masing-masing yang bergemuruh hebat. “Kamu nggak apa-apa?” Suara Dewangga rendah, nyaris berbisik. Jandita menggeleng, tapi ia tidak bisa menjauh. Kedekatan itu … wangi maskulin Dewangga, cara tangannya masih bertahan di pinggangnya, dan tatapannya yang berbeda, membuat lutut Jandita lemas. “Om …,” bisiknya, mata terangkat mengunci pandangan pada pria itu. Dewangga menatap balik dengan tatapan yang menusuk, melirik singkat ke bibirnya sebelum menarik napas dalam dan memalingkan wajah. “Jangan ceroboh,” ucapnya pelan, tapi nadanya terdengar … terlalu peduli. Dan Jandita baru sadar. Ia bisa saja jatuh pada pesona duda teman Papanya ini tiba-tiba. Sebelum kemudian, Dewangga memalingkan wajahnya cepat. “Tahan dirimu, Dewa,” batinnya ketika sadar dadanya berdebar dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN