Bab 23. Pengakuan Hangat

1147 Kata

Kamar itu tenggelam dalam sunyi yang berbeda. Bukan lagi sunyi yang canggung atau penuh jarak, melainkan tenang yang berat oleh sisa perasaan. Jandita berbaring membelakangi Dewangga, punggungnya naik turun pelan. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak. Ia belum tidur. Lengan Dewangga melingkar di pinggangnya dari belakang. Menarik tubuh Jandita lebih dekat hingga punggung gadis itu menempel penuh ke dadanya. Pria itu terdiam beberapa detik, merasakan hangat tubuh istrinya yang pas di pelukannya, sebelum akhirnya berbisik rendah. “Kamu belum tidur?” Jandita terkejut. Matanya langsung terbuka, napasnya sempat tertahan. Ia sempat berpikir jika Dewangga sudah terlelap. Seperti kebanyakan pria setelah berhubungan badan. Nyatanya, ia masih terjaga. Bahkan tahu jika Jandita juga masih belum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN