Bab 24. Mertuaku Mantanku

1362 Kata

Pagi menyelinap masuk lewat sela gorden yang belum sepenuhnya tertutup. Cahaya lembut jatuh di lantai kamar ketika pintu kamar mandi terbuka perlahan. Jandita melangkah keluar dengan rambut masih setengah basah, handuk kecil tersampir di bahu. Langkah pertamanya langsung goyah. Ia refleks meraih dinding, menahan tubuhnya sendiri. Otot-ototnya terasa nyeri, pinggangnya pegal, dan ada rasa linu aneh yang membuatnya meringis kecil. Jandita menghela napas pelan, lalu tertawa tanpa suara. “Astaga…,” gumamnya lirih. Ingatan itu datang begitu saja. Beberapa bulan lalu, Tara pernah turun tangga sambil mengeluh badannya sakit semua. Saat itu Jandita tak terlalu memikirkannya. Ia hanya mengira Tara kelelahan atau salah tidur. Sekarang, setelah merasakan sendiri, Jandita justru terpaku. Kalau b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN