Bab 54. Obat Kesepian Arka

1726 Kata

Langit di atas pemakaman sore itu berwarna abu-abu pekat, seolah-olah semesta pun turut meluruhkan kedukaannya. Tanah makam Tara masih basah, mengeluarkan aroma tanah merah yang khas bercampur dengan wangi bunga mawar dan melati yang baru saja disebar. Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, Kendra berdiri mematung. Wajahnya datar, matanya kosong menatap nisan kayu yang masih baru, tempat nama wanita yang paling ia cintai kini terukir abadi. Ia tidak lagi menangis. Air matanya seolah-olah telah mengering sejak malam di ICU itu. Ia hanya diam, merenungi setiap jengkal kenangan yang kini terkubur di bawah sana. Semua terjadi begitu cepat. Pertemuan mereka, pernikahan yang penuh keraguan, kehamilan yang penuh risiko, hingga perpisahan yang begitu mendadak. Semuanya terasa seperti mimpi bu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN