Bab 29. Penyelidikan Polisi

1237 Kata

Dunia seolah runtuh di sekitar Jandita. Keheningan butik yang biasanya menenangkan kini terasa mencekik, hanya menyisakan suara tetesan darah yang jatuh dari pelipis Kendra ke lantai marmer yang dingin. Vas yang tadi digenggamnya sudah terlepas, hancur berkeping-keping menjadi saksi bisu kekalutan jiwanya. "Kendra ... bangun ...," bisik Jandita parau. Tubuhnya merosot ke lantai, ia berjongkok dengan jarak satu meter dari tubuh pria itu. Tangannya yang gemetar hebat menutupi mulutnya sendiri, mencoba meredam isak tangis yang mulai meledak. Ia sendirian. Karyawannya baru akan sampai lima belas menit lagi. Dalam kepanikannya, pikiran Jandita hanya tertuju pada satu nama. Dengan jari yang licin karena keringat dingin, ia merogoh saku roknya dan mendial nomor Dewangga. Hanya dua nada sambung

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN