Bab 52. Mencari Detak Jantung Mamanya

1657 Kata

Pagi menyapa dengan semburat cahaya yang pucat, seolah-olah matahari pun enggan memancarkan sinarnya di atas atap rumah sakit yang sarat akan duka itu. Di koridor depan ruang ICU, Jandita berdiri mematung. Wajahnya yang biasa merona kini tampak seputih kapas, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menunjukkan bahwa tidur adalah kemewahan yang tak mampu ia raih semalam. Dewangga berdiri tepat di belakang istrinya, kedua tangannya memegang bahu Jandita dengan erat, memberikan topangan fisik agar wanita itu tidak ambruk. Ia bisa merasakan tubuh Jandita yang gemetar pelan. "Jan, kita harus pulang. Kamu sudah tidak makan sejak kemarin sore. Pikirkan bayi kita," bisik Dewangga, suaranya sarat akan kekhawatiran. Jandita tidak menjawab. Matanya tertuju pada kaca besar yang membatasi dunia lu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN