Siang itu, rumah kediaman Jatmiko terasa lebih hangat namun sekaligus menyimpan ketegangan yang tersembunyi. Jatmiko sudah duduk di kursi rodanya di ruang tengah, dikelilingi oleh bantal-bantal empuk dan perhatian luar biasa dari Arumi dan Jandita. Kepulangan Jatmiko ke rumah seharusnya menjadi perayaan penuh syukur, namun fokus semua orang perlahan teralihkan pada sosok Tara yang baru saja tiba. Tara melangkah dengan sangat hati-hati, tangannya terus bertumpu pada lengan Kendra. Wajahnya yang biasanya dipulas make-up tipis kini dibiarkan polos, menonjolkan kulit yang sepucat kertas dan bibir yang kehilangan rona alaminya. Jandita, yang sedang menata buah-buahan di meja, segera menghampiri adiknya. "Ra, kamu pucat banget. Kamu sakit?" tanya Jandita dengan nada cemas yang kental. Ia menye

