Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar kamar rawat, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya AC rumah sakit. Ruangan terasa hidup. Jatmiko sudah duduk bersandar di ranjang, wajahnya tampak jauh lebih segar saat Jandita dengan telaten menyuapkan bubur gandum ke mulutnya. Suasana semakin ramai ketika pintu terbuka. Arumi masuk hampir bersamaan dengan Tara dan Kendra. Mereka membawa aroma kopi dan roti hangat, membuat atmosfer ruangan itu tidak lagi terasa seperti kamar rumah sakit, melainkan seperti ruang keluarga yang intim. "Pa, sarapannya dihabiskan ya, biar cepat pulang," ucap Jandita lembut sambil menyeka sudut bibir ayahnya. Setelah baki makanan disisihkan, Jandita menoleh ke arah Dewangga. Suaminya itu berdiri di sampingnya, memberikan anggukan kecil. Sebuah k

